23 Mei 2008

Penyebab Utama Kegagalan

1. Latar Belakang keturunan yang tidak menguntungkan. Faktor ini hanya sedikit, sangat sedikit. Biasanya sesuatu yang memang tidak dapat diubah, seperti cacat. Tapi kita bisa mengubah kecacatan itu menjadi keuntungan.

Alasan ini menjadi satu-satunya dari yang lain (nantinya) yang sulit untuk diubah.
2. Tujuan Hidup yang tidak ditetapkan dengan baik. Tidak ada harapan sukses bagi orang yang tidak memeiliki tujuan sentral atau sasaran pasti untuk dicapai. Kata Napoleon Hill, 98 dari 100 orang yang gagal tidak memiliki tujuan hidup yang jelas.
3. Kurang ambisi untuk mencapai sasaran di atas rata-rata. Tak perlu menawarkan harapan kepada orang yang tidak punya semangat dan cuek, serta bersikap masa bodoh. Atau orang yang tidak mau membayar untuk kesuksesannya.
4. Pendidikan yang tidak cukup. Kelemahan ini bisa diatasi dengan cukup mudah. Pendidikan tidak berarti sekolah. Yang berbahaya adalah, anda berhenti belajar dan mencari pendidikan sesaat setelah berhenti dari sekolah.
5. Kurang disiplin pribadi. Disiplin datang dari pengendalian diri. Ini berarti harus menguasai dan mengurangi kualitas negatif dalam diri. Kalau Anda tidak bisa menaklukan diri, Anda akan ditaklukan diri Anda.
6. Kesehatan yang buruk. Tidak ada orang yang bisa menikmati kesuksesan yang menonjol dengan kondisi kesehatan yang tidak baik. Hal ini terjadi karena kurangnya pengendalian diri. Hal itu terutama dikarenakan:
- terlalu banyak makan makanan yang merugikan
- kebiasaan pemikiran yang salah. Hal ini mengundang persepsi negatif terhadap diri sendiri
- terlalu banyak memanjakan diri dan melakukan penyimpangan tindakan seksual
- kurang latihan olahraga
- kurang persediaan udara segar
7. Pengaruh lingkungan yang tidak menyenangkan dimasa kanak-kanak. Para pembaca mungkin penah mendengar pepatah, jika pohonnnya condong, dahannya pasti menekuk. Atau pepatah lain, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kebanyakan orang yang menjadi penjahat biasanya mendapat pengaruh yang jelek dari masa kanak-kanaknya.
8. Suka menunda-nunda. Ini adalah penyebab kegagalan yang paling lazim terjadi. Kebiasaan menunda-nunda membayangi setiap manusia, menunggu peluang untuk merusak peluang seseorang untuk meraih kesuksesan. Kebanyakan dari kita hidup sebagai orang gagal karena kita menunggu ’saat yang tepat untuk melakukan sesuatu’, kita menunggu ’ saat melakukan hal yang benar’, untuk memulai sesuatu yang berharga. Jangan menunggu, tidak pernah ada ’saat yang tepat’ untuk berbuat sesuatu. Mulailah sekarang juga, dan bekerjalah dengan alat apa saja yang sekarang sudah Anda miliki. Alat yang lebih baik akan ditemukan sambil jalan.
9. Kurangnya ketekunan; kabanyakan dari kita biasanya mampu dengan baik melakukan sesuatu diawal-awal, tapi tidak mampu menyelesaikan apa yang telah kita mulai. Lebih buruk lagi, orang biasanya menyerah saat tanda-tanda kekalahan pertama terlihat. Tidak ada ’pemain pengganti’ untuk ketekunan. Jika ketekunan hilang, sukses turut serta pergi bersamanya.
10. kepribadian negatif. Tidak ada harapan sukses bagi siapa saja yang menjauhkan orang lain karena kepribadian negatif yang dikembangkannya sendiri. Sukses datang melalui penerapan kekuasaaan, dan kekuasaan datang melalui kerjasama dengan orang lain. Kepribadian negatif tidak bisa menarik kerjasama.
11. Energi seksual adalah yang terkuat di antara semua rangsangan yang menggerakkan anda untuk bertindak. Karena merupakan emosi yang paling kuat, dorongan seksual yang harus dikendalikan melalui transmutasi dan diubah menjadi dorongan melalui saluran yang lain.
12. Keinginan tak terkendali untuk mendapat sesuatu tanpa mau mengorbankan apapun. Insting berjudi mendorong jutaan orang menuju kegagalan.
13. Gagal mengambil keputusan yang pasti. Orang yang sukses menggapai keputusan dengan seketika, dan mengubahnya—jika memang harus mengubahnya—dengan perlahan-lahan. Orang yang gagal biasanya mengambil keputusan—jika memang harus mencapainya–dengan lambat, dan mengubahnya dengan cepat dan sering. Kebimbangan dan kebiasaan menunda-nunda merupakan saudara kembar. Kalau yang satu ditemukan, yang lain juga berada tidak jauh dari situ. Bunuhlah pasangan ini, sebelum mereka membelenggu Anda di pusaran kegagalan.
14. Memeliihara Satu atau lebih dari enam ketakutan dasar. Rasa takut ini harus dikuasai sebelum Anda beranjak maju menuju kesuksesan. ( 1. akan kemiskinan 2. akan kritik 3. akan kesehatan yang buruk 4. kan kehilangan cinta 5. akan usia tua 6. akan kematian).
15. Pilihan teman hidup yang keliru. Ini juga penyebab umum untuk kegagalan. Hubungan perkawinan mendatangkan kontak yang sangat intim jika hubungan ini serasi. Tetapi biasanya yang sering terjadi adalah kesengsaraan. Hal ini merupakan bentuk kegagalan yang ditandai oleh kesengsaraan dan ketidakbahagiaan dan menghancurkan semua ambisi. Apa hubungan pasangan hidup dengan kesuksesan? Dukungan tim, itu jawabannya.
16. Terlalu berhati-hati. Orang yang tidak berani mengambil resiko, biasanya hanya akan mendapatkan sisa-sisa setelah semua orang selesai memilih. Terlalu berhati-hati sama buruknya dengan kurang berhati-hati. Keduanya merupakan keadaan ekstrim yang harus dihindari. Kehidupan ini sendiri penuh dengan unsur resiko.
17. Pilihan rekan bisnis yang keliru. Ini adalah selah satu penyebab kegagalan yang lazim dalam berbisnis. Kita akan meniru mereka yang berhubungan dekat dengan kita.
18. Percaya kepada Takhayul dan Berprasangka. Percaya kepada takhayul merupakan bentuk dari rasa takut. Itu juga merupakan bentuk dari kebodohan. Orang yang sukses tetap membuka pikirannya dan tidak takut kepada apapun. Takhayul di sini bukan hanya berarti cerita-cerita menyeramkan atau hantu, atau cerita yang tidak masuk akal. Takhayul lebih berarti anggapan-anggapan umum yang belum terbukti kebenarannya, orang yang tidak sekolah tinggi tidak bisa menjadi kaya, misalnya.
19. Pilihan kejuruan yang keliru. Tidak ada orang yang bisa sukses karena melakukan sesuatu yang tidak disukai. Langkah yang paling penting jika anda ingin sukses adalah memilih bidang pekerjaan yang akan Anda tekuni dengan sepenuh hati.
20. Kurangnya konsentrasi terhadap usaha. Orang yang serba bisa biasanya tidak bisa menguasai sesuatu dengan baik. Pusatkanlah seluruh potensi dan fokus anda pada satu tujuan utama yang pasti.
21. Kebiasaan terlalu boros. Orang yang terlalu boros tidak bisa sukses. Terutama karena dia selalu takut kepada kemiskinan. Bentuklah kebiasaan menabung secara sistematis dengan menyisihkan suatu persentase dari pendapatan anda, bukan dari sisa uang belanja anda. Simpanan uang memberi anda landasan untuk melakukan tawar menawar. Tanpa uang, oarng terpaksa menerima apapun yang ditawarkan orang lain kepadanya, dan gembira menerima jumlah yang sangat sedikit itu. Karena memang tidak ada pilihan lain.
22. Kurang antusias. Kurang antusisme atau gairah kerja membuat penampilan orang tidak meyakinkan. Lebih-lebih, gairah kerja adalah sesuatu yang menular, dan orang yang memilikinya dan mampu mengontrolnya biasanya disukai orang banyak.
23. Tidak punya tenggang rasa. Orang yang pikirannya tertutup biasanya kurang bisa maju. Tidak memiliki tenggang rasa atau toleransi berarti bahwa orang berhenti memperoleh pengetahuan.
24. Tidak sederhana. Bentuk yang paling merusak dari sikap tidak bersahaja atau ketidaksederhanaan biasanya berhubungan dengan makanan, minuman, dan hubungan seksual. Terlalu memanjakan diri dalam salah satu atau semua hal di atas akan mengakibatkan hasil yang fatal.
25. Ketidakmampuan bekerja sama dengan orang lain. Lebih banyak orang kehilangan kedudukan dan kesempatan yang lebih besar dalam hidup karena hal ini. Ini kesalahan yang tidak akan ditoleransi oleh usahawan atau pemimpin manapun.
26. Pemilikan kekuasaan tidak dari hasil sendiri. Kekuasaan di tangan seseorang yang memperolehnya tidak dengan cara berangsur-angsur kerap mengakibatkan hal fatal dalam sukses. Kekayaan yang datang terlalu cepat lebih berbahaya dari kemiskinan.
27. Ketidakjujuran dengan sengaja. Tidak ada pengganti untuk kejujuran. Orang mungkin untuk sementara melakukan ketidakjujuran karena dipaksa oleh sistem, hal ini bisa jadi tidak merusak dirinya secara permanen. Tetapi tidak ada harapan bagi orang yang tidak jujur karena pilihannya sendiri. Cepat atau lambat perbuatannya akan merugikan diri sendiri, dia akan kehilangan reputasi dan bisa jadi harus membayar dengan kebebasannya.
28. Mementingkan diri sendiri dan sombong. Kedua kualitas ini adalah lampu merah bagi orang lain untuk mendekat. Keduanya sangat fatal dalam kesuksesan.
29. Menduga dan bukan berpikir. Kebanyakan orang terlalu malas atau terlalu bodoh untuk memperolah fakta yang harus digunakan sebagai landasan untuk berpikir secara akurat. Mereka memilih bertindah berdasar ’opini’ yang tercipta melalui dugaan atau pemikiran sepintas lalu.
30. Kurang modal. Ini penyebab yang paling umum dari kegagalan bagi orang yang memulai bisnis untuk pertama kalinya. Mereka tidak punya cadangan modal untuk mengatasi kerugian atau kesalah kecil dalam bisnisnya, dan untuk terus bertahan sampai membentuk reputasi.
31. Lainnya. Sebutkan satu kegagalan yang anda alami atau anda tahu yang mungkin belum tercantum dalam 30 daftar penyebab utama kegagalan di atas.


Ada tiga hal yang harus diatasi sebelum anda dapat menggapai sukses. Ketiga hal tersebut adalah ketidakpasatian, keraguan, dan rasa takut. Anggota tiga sekawan yang jahat ini saling berhubungan dengan erat; kalau satu ditemukan, dua yang lain tidak jauh dari sana.
Ketidakpastian adalah benih dari rasa takut. Juga harus dipahami adalah rasa hanya merupakan keadaan pikiran belaka.
Ada 6 ketakutan mendasar manusia dengan kombinasi yang berbeda-beda (mungkin juga sama) bagi tiap orang. Jika disusun berdasarkan kekerapan kemunculannya, keenam ketakutan itu adalah:
1. takut akan kemiskinan
2. takut akan kritik
3. takut akan kesehatan yang buruk.
4. takut akan kehilangan cinta
5. takut akan usia tua
6. takut akan kematian
Tiga rasa takut yang pertama (kemiskinan, kritik, dan kesehatan yang buruk) berada paling dasar dari seluruh kekhawatiran manusia.

*dari buku Think and Grow Rich, Napoleon Hill

Read More......

04 Maret 2008

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

PENDAHULUAN

Salah satu sumber daya yang penting dalam manajemen adalah sumber daya manusia atau human resources. Pentingnya sumber daya manusia ini, perlu disadari oleh semua tingkatan manajemen. Bagaimanapun majunya teknologi saat ini, namun faktor manusia tetap memegang peranan penting bagi keberhasilan suatu organisasi. Menurut Buchari Zainun (2001, hal. 17), manajemen sumber daya manusia merupakan bagian yang penting, bahkan dapat dikatakan bahwa manajemen itu pada hakikatnya adalah manajemen sumber daya manusia atau manajemen sumber daya manusia adalah identik dengan manajemen itu sendiri.


PENGERTIAN

Beberapa pengertian tentang manajemen sumber daya manusia, antara lain :

§ Manajemen sumber daya manusia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan kegiatan-kegiatan, pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai berbagai tujuan individu, organisasi, dan masyarakat. (Flipo, 1989)

§ Manajemen sumber daya manusia adalah sebagai penarikan, seleksi, pengembangan, penggunaan dan pemeliharaan sumber daya manusia oleh organisasi. (French dalam Soekidjo, 1991)

Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan proses pendayagunaan manusia atau pegawai yang mencakup; penerimaan, penggunaan, pengembangan dan pemeliharaan sumber daya manusia yang ada.

KONSEPS TENTANG SDM

Perubahan konsepsi tentang sumber daya manusia atau pandangan terhadap pekerja dalam kerangka hubungan kerja pada organisasi.

  1. Pekerja dianggap sebagai Barang Dagangan.

Sekitar pertengahan abad ke 19 berkembang anggapan bahwa manusia kerja atau pekerja dianggap sebagai barang dagangan. Pekerja diperlakukan sebagai salah satu faktor produksi yang dapat diperjualbelikan untuk dijadikan alat produksi. Anggapan ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain pekerja tidak mungkin menjual daya atau tenaganya. Bahkan dalam pemanfaatan SDM ini, pekerja harus tunduk kepada beberapa hal yang ada diluar dirinya, seperti disiplin dan kekuasaan majikannya, pegawai lain, penggunaan dan pengembangan pegawai, yang diarahkan untuk tercapainya tujuan organisasi.

  1. Pekerja dianggap sebagai SDM.

Adanya anggapan bahwa sering terjadinya pemborosan dalam pemanfaatan sumber daya manusia atau pekerja. Keadaan ini berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dari organisasi, dan juga penghasilan pekerja itu sendiri. Selain pemborosan, juga faktor-faktor yang berkaitan dengan kelalaian pekerja, misalnya terjadi kecelakaan serta biaya pengembangan kemampuan atau kompensasi SDM. Semuanya merupakan biaya yang harus diperhitungan dalam menghitung biaya produksi. Biaya tersebut sering disebut sebagai biaya sosial yang harus ditanggung bersama-sama oleh pihak-pihak yang bersangkutan, seperti masyarakat, pemilik usaha dan pekerja sendiri. Biaya sosial ini kadang-kadang dapat melebihi biaya produksi.

  1. Pekerja dianggap sebagai Mesin.

Pada akhir abad 19 dan permulaan abad ke-20, dengan munculnya konsep manajemen ilmiah (Scientific Management), antara lain proses manajemen lebih mengutamakan produktivitas pekerja. Manajemen mengutamakan pada pengukuran kerja dan kualitas kerja, analisa pekerjaan sampai kepada hal-hal yang sangat detail dalam pekerjaan. Pada situasi ini, pimpinan menempatkan pekerja tak ubahnya sebagai mesin, karena pekerjaan yang bersifat rutin, dan pekerjaan rutin pada prinsipnya dapat dikerjakan oleh mesin. Konsepsi SDM yang demikian tidak ubahnya menganggap bahwa pekerja itu sama dengan barang dagangan. Karena SDM dianggap seperti mesin, maka penggunaan pekerja tersebut diusahakan sama seperti mesin dengan mengutamakan produktivitasnya tanpa memandang segi-segi kemanusiaan seperti; pikiran, perasaan, dan tata nilai manusia lainnya.

  1. Pekerja dianggap sebagai Manusia.

Sebagai reaksi terhadap pandangan yang menganggap dan memperlakukan manusia kerja sebagai mesin atau alat yang tidak manusiawi, maka muncul pandangan yang cenderung kadang-kadang terlalu manusiawi. Teori Y dari McGregor mempunyai relevansi tinggi dengan pandangan yang berwatak manusiawi. Dalam hal tertentu pandangan ini memang dapat berhasil yaitu bilamana kualifikasi pekerjanya sudah cukup tinggi, namun akan gagal bilamana manusianya dipandang dan diperlakukan secara manusiawi itu tanpa kendali sama sekali. Selanjutnya muncul gerakan hubungan manusia (human relations movement) yang dipelopori oleh Elton Mayo, Dickton dan sebagainya. Kelompok ini memandang bahwa dalam manajemen tidak semata-mata berdasar atas rasa kemanusiaan saja, tetapi secara ilmiah dapat dilakukan observasi terhadap pekerja. Selain itu pekerja mempunyai sistem saraf dan alat perasa lainnya sebagaimana manusia lainnya, dan juga ingin menempati kedudukan sosial yang layak dalam masyarakat. Pada tahapan ini, pandangan terhadap pekerja pada dasarnya ingin memanusiakan manusia pekerja, dan disarankan suapaya pekerja diperlakukan yang wajar dan manusiawi, dengan lebih memperhatikan perasaan-perasaan manusianya.

  1. Pekerja dianggap sebagai Partner

Sebagai kelanjutan konsepsi tentang pekerja yang harus dimanusiakan, kemudian berkembang konsep partnership. Konsepsi ini pada prinsipnya ingin menjembatani perbedaan atau pertentangan antara pemilik usaha dengan pekerjanya. Disini ditekankan bahwa pemilik usaha tidak mungkin menjalankan sendiri usahanya tanpa bantuan orang lain atau pekerja, demikian pula sebaliknya pekerja tidak bisa melakukan kegiatan atau pekerjaan bilamana tidak ada pemilik usaha. Untuk itu perlu adanya kerjasama yang merupakan suatu sistem yang bermanfaat untuk terjadinya partnership. Konsep partnership ini dikembangkan oleh Ouchi dengan Teori Z yang saat ini banyak diterapkan pada manajemen Jepang. Secara mendasar konsep ini ingin menerapkan, bahwa pekerja supaya tidak tunduk sepenuhnya kepada kekuasaan manajemen yang absolut, akan tetapi memandang pekerja sebagai bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari manajemen itu sendiri. Pekerja mempunyai hak yang sama untuk berperan aktif dalam mencapai tujuan organisasi, seperti halnya kelompok ahli dan kelompok manajemen lain terlibat dalam pengambilan keputusan dan menentukan kebijaksanaan penting organisasi. Karena itu konsep partnership ini sering juga dinamakan ko-determinasi (co-determinas).

PROSES MANAJEMEN SDM

Proses manajemen sumber daya manusia yang akan dibahas, sebagaimana disampaikan oleh Pigors dan Myers (1961) yaitu menekankan pada; recruitment (pengadaan), maintenance (pemeliharaan) dan development (pengembangan).

  1. Pengadaan Sumber Daya Manusia

Recruitment disini diartikan pengadaan, yaitu suatu proses kegiatan mengisi formasi yang lowong, mulai dari perencanaan, pengumuman, pelamaran, penyaringan sampai dengan pengangkatan dan penempatan. Pengadaan yang dimaksud disini lebih luas maknanya, karena pengadaan dapat merupakan salah satu upaya dari pemanfaatan. Jadi pengadaan disini adalah upaya penemuan calon dari dalam organisasi maupun dari luar untuk mengisi jabatan yang memerlukan SDM yang berkualitas. Jadi bisa berupa recruitment from outside dan recruitment from within.

Recruitment from within merupakan bagian dari upaya pemanfatan SDM yang sudah ada, antara lain melalui pemindahan dengan promosi atau tanpa promosi. Untuk pengadaan pekerja dari luar tahapan seleksi memegang peran penting. Seleksi yang dianjurkan bersifat terbuka (open competition) yang didasarkan kepada standar dan mutu yang sifatnya dapat diukur (measurable). Pada seleksi pekerja baru maupun perpindahan baik promosi dan tanpa promosi, harus memperhatikan unsur-unsur antara lain; kemampuan, kompetensi, kecakapan, pengetahuan, keterampilan, sikap dan kepribadian.

Tahapan pemanfaatan SDM ini sangat memegang peranan penting, dan merupakan tugas utama dari seorang pimpinan. Suatu hal yang penting disini adalah memanfaatkan SDM atau pekerja secara efisien, atau pemanfaatan SDM secara optimal, artinya pekerja dimanfaatkan sebesar-besarnya namun dengan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan batas-batas kemungkinan pemanfaatan yang wajar. Orang tidak merasa diperas karena secara wajar pula orang tersebut menikmati kemanfaatannya.

Prinsip pemanfaatan SDM yang terbaik adalah prinsip satisfaction yaitu tingkat kepuasan yang dirasakan sendiri oleh pekerja yang menjadi pendorong untuk berprestasi lebih tinggi, sehingga makin bermanfaat bagi organisasi dan pihak-pihak lain. Pemanfaatan SDM dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yang paling mudah dan sederhana sampai cara yang paling canggih. Pemanfaatan SDM perlu dimulai dari tahap pengadaan, dengan prinsip the right man on the right job.

  1. Pemeliharaan Sumber Daya Manusia

Pemeliharaan atau maintenance merupakan tanggung jawab setiap pimpinan. Pemeliharaan SDM yang disertai dengan ganjaran (reward system) akan berpengaruh terhadap jalannya organisasi. Tujuan utama dari pemeliharaan adalah untuk membuat orang yang ada dalam organisasi betah dan bertahan, serta dapat berperan secara optimal. Sumber daya manusia yang tidak terpelihara dan merasa tidak memperoleh ganjaran atau imbalan yang wajar, dapat mendorong pekerja tersebut keluar dari organisasi atau bekerja tidak optimal.

Pemeliharaan SDM pada dasarnya untuk memperhatikan dan mempertimbangkan secara seksama hakikat manusianya. Manusia memiliki persamaan disamping perbedaan, manusia mempunyai kepribadian, mempunyai rasa, karya, karsa dan cipta. Manusia mempunyai kepentingan, kebutuhan, keinginan, kehendak dan kemampuan, dan manusia juga mempunyai harga diri. Hal-hal tersebut di atas harus menjadi perhatian pimpinan dalam manajemen SDM. Pemeliharaan SDM perlu diimbangi dengan sistem ganjaran (reward system), baik yang berupa finansial, seperti gaji, tunjangan, maupun yang bersifat material seperti; fasilitas kendaraan, perubahan, pengobatan, dll dan juga berupa immaterial seperti ; kesempatan untuk pendidikan dan pelatihan, dan lain-lain. Pemeliharaan dengan sistem ganjaran ini diharapkan dapat membawa pengaruh terhadap tingkat prestasi dan produktitas kerja.

3. Pengembangan Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia yang ada didalam suatu organisasi perlu pengembangan sampai pada taraf tertentu sesuai dengan perkembangan organisasi. Apabila organisasi ingin berkembang seyogyanya diikuti oleh pengembangan sumber daya manusia. Pengembangan sumber daya manusia ini dapat dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan.

Pendidikan dan pelatihan merupakan upaya untuk pengembangaan SDM, terutama untuk pengembangan kemampuan intelektual dan kepribadian. Pendidikan pada umumnya berkaitan dengan mempersiapkan calon tenaga yang digunakan oleh suatu organisasi, sedangkan pelatihan lebih berkaitan dengan peningkatan kemampuan atau keterampilan pekerja yang sudah menduduki suatu jabatan atau tugas tertentu.

Untuk pendidikan dan pelatihan ini, langkah awalnya perlu dilakukan analisis kebutuhan atau need assessment, yang menyangkut tiga aspek, yaitu : (1) analisis organisasi, untuk menjawab pertanyaan : "Bagaimana organisasi melakukan pelatihan bagi pekerjanya", (2) analisis pekerjaan, dengan pertanyaan : " Apa yang harus diajarkan atau dilatihkan agar pekerja mampu melaksanakan tugas atau pekerjaannya" dan (3) analisis pribadi, menekankan "Siapa membutuhkan pendidikan dan pelatihan apa". Hasil analisis ketiga aspek tersebut dapat memberikan gambaran tingkat kemampuan atau kinerja pegawai yang ada di organisasi tersebut.

Kinerja atau performance dipengaruhi oleh beberapa faktor yang disingkat "ACIEVE" yaitu : ability (kemampuan pembawaan), capacity (kemampuan yang dapat dikembangkan), incentive (insentif material dan non-material), environment (lingkungan tempat kerja), validity (pedoman, petunjuk dan uraian kerja) dan evaluation (umpan balik hasil kerja). Dari beberapa faktor di atas, yang dapat diintervensi dengan pendidikan dan pelatihan adalah capasity atau kemampuan pekerja yang dapat dikembangkan, sedangkan faktor lainnya diluar jangkauan pendidikan dan pelatihan.

BEBERAPA METODA PELATIHAN :

a. Metoda di luar pekerjaan (off the job side)

Pada metoda ini pegawai yang mengikuti pendidikan atau pelatihan keluar sementara dari pekerjaannya, mengikuti pendidikan dan pelatihan secara intensif. Metoda ini terdiri dari 2 teknik, yaitu :

1) Teknis presentasi informasi, yaitu menyampaikan informasi yang tujuannya mengintroduksikan pengetahuan, sikap dan keterampilan baru kepada peserta. Antara lain melalui; ceramah biasa, teknik diskusi, teknik pemodelan perilaku (behavioral modelling), model kelompok T, yaitu mengirim pekerja ke organisasi yang lebih maju untuk mempelajari teori dan mempraktekkannya.

2) Teknik simulasi. Simulasi adalah meniru perilaku tertentu sedemikian rupa sehingga peserta pendidikan dan latihan dapat merealisasikan seperti keadaan sebenarnya. Teknik ini seperti; simulator alat-alat kesehatan, studi kasus (case study), permainan peran (role playing), dan teknik dalam keranjang (in basket), yaitu dengan cara memberikan bermacam-macam masalah dan peserta diminta untuk memecahkan masalah tersebut sesuai dengan teori dan pengalamannya.

b. Metoda di dalam pekerjaan (on the job side)

Pelatihan ini berbentuk penugasan pekerja baru, yang dibimbing oleh pegawai yang berpengalaman atau senior. Pekerja yang senior yang bertugas membimbing pekerja baru diharapkan memperlihatkan contoh-contoh pekerjaan yang baik, dan memperlihatkan penanganan suatu pekerjaan yang jelas.


Read More......

08 Februari 2008

Istilah Chatting

Singkatan,Kepanjangan dan Arti

afaic as far as I'm concerned : sepanjang yg saya ikuti
afaik as far as I know : sepanjang yg saya tahu
asap as soon as possible : secepat mungkin
asl age, sex, location : usia, jenis kelamin, lokasi
b4 before : sebelumnya
bbiaf be back in flash : kembali sebentar lagi

bbl be back later : nanti akan kembali
bot back of topic : kembali ke topic semula
brb be right back : segera kembali
btw by the way : ngomong-ngomong, lalu
c2c cam to cam : memakai webcam bersama-sama
ce/co cewek atau cowok : cewek atau cowok
CMIIW Correct Me if I'm wrong : betulkan jika saya salah
cp cross posting :
crs can remember stuff :
cu see you : ketemu kamu
cya see ya : ketemu
dc disconnected : proses chatting terputus
diy do it yourself : kerjakan sendiri
eod end of discussion : akhir sebuah diskusi
ez easy : mudah
f/m female or male : wanita atau laki-laki
f2f face to face : bertatap muka
faq Frequently Asked Questions : Pertanyaan yg sering diajukan
fbow For better or worse :
foaf friend of a friend : teman dari teman
focl falling off chair laughing :
fs friendster : idem
fya for your amusement :
fyi for your information : informasi untuk kamu
gal get a life : hidup
gr8 great :keren
gtg got to go : aku mau pergi
gw guwe : saya
hi2 hi too : halo juga
hru how are you : apa kabar
ic I see : saya tahu
imho in my humble opinion :menurut pendapat (sederhanaku)
imo in my opinion :pendapatku
iow in other world :di dunia lain
iso in search of :
itt in the topic :di dalam topik bahasan
j/k just kidding :hanya bercanda
JIC just in case :hanya kasus tertentu
kul/ker kuliah atau kerja : kuliah atau kerja
lol loughing of loud : tertawa terbahak-bahak (mengejek)
np, nop no problem : tidak masalah
oic oh, I see : oh, saya tahu
oll online love : percintaan online
omg oh my God : oh Tuhan
oot out of topic : keluar dari topik bahasan
ot out topic : keluar topic bahasan
otf on the floor :
otoh on the other hand :di tangan yang lain
pls please :silakan (bisa bermakna memohon)
pov point of view :
ps post script :
re hi again : halo lagi
rehi Hello Again : halo kembali
rofl rolling on Floor laughing : tertawa sambil berguling-guling
rotf rolling on the floor : berguling-guling di lantai
rsn real soon now :secepatnya
rtfm read the fucking manual : baca petunjuk
ruok are you OK : apakah kamu baik2 saja
so significant other : yang lain lebih penting
tbe to be expected : diharapkan
tbh to be honest : menjadi manis
thx thank you : terima kasih
tia Thank In Advance : terima kasih sekali
u you :kamu
u1 you 1 :kamu duluan
voot very out of topic : sangat menyimpang dari topic
wb welcome back : selamat datang
wbs write back soon : akan ditulis kembali segera
wo without : tanpa
wombat waste of money, brains,& money : buang2 uang, pikiran dan waktu
wrt with regard to : dengan senang hati
wta want to ask : memohon
wtb want to buy : ingin membeli
wtg way to go : jalan keluar
wti want to inform : ingin menginformasikan
wts want to sell : ingin menjual
y2k year 2000 : tahun 2000
zzz sleeping : tidur
ntmu nice to meet you : senang ketemu Anda

Mohon partisipasi aktif untuk mengoreksi jika ada yang kurang tepat dan menambahkan jika ada singkatan yang lain yang sering digunakan.

http://onoid.blogspot.com

Read More......

06 Januari 2008

SOLAEDO

SOLAEDO adalah nama sebuah sungai yang mana sungai tersebut sangat banyak memiliki ikan air tawar atau LAEDO. Airnya jernih dan alami karena belum dicemari oleh polusi atau limbah-limbah lainnya dan karena sungainya masih natural maka ikan-ikannya juga sangat enak dan lezat berbeda dengan ikan-ikan lainnya.

SOLAEDO memiliki makna filosofi adalah sesuatu yang masih natural dan memberikan makanan kepada manusia sehingga sangat dibutuhkan oleh manusia dan juga sesuatu yang menjadi pengharapan umat manusia.
Read More......

17 September 2007

Langkah keluar dari Zona Nyaman

Setiap kita memiliki kenyamanan, kenikmatan dan kesenangan yang berbeda. Ada orang yang suka memancing ikan, jadi liburannya berhari-hari dihabiskan hanya di tepi kolam atau pantai hanya untuk memancing ikan.

Ia begitu sabar menunggu, ia rela diterpa sinar terik matahari, ia rela menghabiskan waktunya demi kesenangannya ini. Lain pula dengan orang yang hobbynya shopping, ia tidak merasa capek keliling-keliling seluruh plaza, padahal tanpa membeli sesuatu apapun, ia begitu menikmati akan kesenangannya ini. Teman saya hobbynya membaca buku, kalau ia sudah memiliki buku baru, ia tidak akan beranjak dari buku itu berjam-jam bahkan berhari-hari bahkan tatkala ia ke WC buku tersebut juga di bawa. Inilah beberapa contoh kenikmatan yang dimiliki manusia. Belum lagi yang hobbynya sepak bola, tinju, nonton film, dan sebagainya.
Sekarang ketika kita menerima anugerah Tuhan sebagai orang percaya, dan mendapatkan keselamatan itu. Ada tugas penting yang Tuhan inginkan kita perbuat. Kita juga harus keluar dari manusia lama kita, menuju suatu kehidupan yang baru. Tidak gampang, perlu pengorbanan. Pengorbanan ini juga relatif, tergantung pada orang tersebut. Mungkin bagi seseorang pengorbanan itu tidak terlalu besar, karena masalah itu bukan kesukaannya. Misalnya pada jam pertandingan sepak bola, bagi yang sudah terikat akan hobby ini, maka ia akan merasa pengorbanan yang sangat besar, apabila pada waktu yang bersamaan ia harus memilih meninggalkan sepak bola hanya karena hendak melakukan sesuatu buat orang lain. Namun bagi mereka yang tidak hobby sepak bola, tentu hal ini tidak menjadi masalah.

Lalu bagaimana? Saya mencatat ada tiga step yang harus diketahui dan dipahami oleh kita sehubungan out of comfort zone ini:

1. Langkah pertama , harus ada kerelaan

Dalam Alkitab ada beberapa tokoh yang secara suka-rela meninggalkan “zona nyaman”nya (comfort zone), misalkan Musa. Sejak kecil ia sudah hidup di kerajaan raja Firaun, segala kesenangan sudah dimiliki. Boleh dibilang sebagai orang Israel yang telah diadopsi sebagai anak angkat puteri Firaun, ia adalah orang yang paling beruntung. Haknya tentu tidak berbeda dengan seorang putera Mahkota. Namun ia harus tinggalkan semua ini, sebab ada tugas panggilan yang berasal dari Tuhan yakni memimpin bangsanya keluar dari Mesir menuju tanah Perjanjian. (Ibrani 11 : 24, 27). Beda dengan Saul, ketika ia tahu “zona nyamannya” terancam, maka ia berusaha membunuh sipengancamnya? Akibatnya Daud harus lari meninggalnya.
Hari ini mungkin kita tidak dipanggil Tuhan untuk meninggalkan segalanya, kita juga tidak dipanggil untuk satu tugas yang berat yakni meningalkan keluarga kita. Namun apabila kita diminta Tuhan untuk mengorbankan waktu sejenak, untuk melakukan pekerjaanNya, apakah kita rela? Saya ingat John Sung dalam hal ini, ia seoarang yang pintar, dan cerdas. Hasil ujiannya juga gemilang. Ia bahkan mencapai gelar doktor di sebuah Universitas bergengsi di Amerika. Namun ia rela membuang segala ijasahnya, hanya untuk menjadi seorang hamba, yakni hamba Tuhan.
Ada orang bilang hidup itu seperti roda yang sedang berputar, kadang kita berada di posisi atas dan kadang pula di bawah. Ketika seseorang berada pada posisi bawah, ia berharap suatu saat dapat mencapai posisi atas, namun ketika ia mencapai posisi atas ia kadang kala lupa bahwa hidup ini ibarat “roda”, sehingga pada waktunya turun, ia ngotot bertahan. Hal inilah yang sering kali mengakibatkan gereja terjadi pertikaian. Kalau menjadi majelis harus yang seumur hidup, kalau menjadi Gembala Sidang juga harus seumur hidup, jabatan gereja ibarat dinasti, bahkan anak cucu juga telah dipersiapan menggantikan tahtanya. Rekan kerja dianggap saingan dan musuh. Ia tidak rela melepaskan jabatan itu, mati-matian mempertahankannya. Karena jabatan ia juga bisa menjadi keras kepala, tidak mau taat pada pada Tuhan. Henry Ward Beecher mengatakan “ Salah satu perbedaan antara ketekunan dan keras kepala adalah bahwa yang satu berasal dari kemauan yang keras, sedangakan yang lainnya berasal dari ketidak-mauan yang keras.”
Beda sekali dengan sikap Jonatan anak raja Saul itu. Mestinya ia adalah calon pengganti ayahnya yakni sang putera mahkota, namun ia tidak keras kepala mempertahankan jabatan itu, bahkan secara suka-rela ia memberikan jabatan tersebut pada Daud. "Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedau di bawahmu. Juga ayahku Saul telah mengetahui yang demikian itu." ( 1 Samuel 23 : 17)
Terlalu sering saya mendengar orang-orang meninggalkan Tuhan kalau ia sudah gagal, artinya ia kehilangan comfort zonenya. Ketika usahanya bangkrut, ketika ia sudah gagal total, baru dengan penuh rohani mengatakan, kali ini Tuhan memukul saya, jadi saya terpaksa harus ikut Tuhan. Ada lagi yang saya temukan teman muda-mudi, mereka baru berpacaran saja sudah meninggalkan persekutuan, bahkan kadang hari Minggu tidak ke gereja. Alasannya, malam minggu harus “apel” (kunjungi pacar), jadi minggunya terlambat bangun. Berbeda sekali dengan Musa dan john Sung ini bukan!, tatkala segala kesenangan ia miliki, ia rela tinggalkan semua, dan memilih taat pada Tuhan.

2. Langkah ke dua, harus berani berkorban

Demikian juga nabi Nehemia, ia seorang kepercayaan raja Arthasasta. Boleh dikatakan jabatannya sudah cukup mapan. Namun ketika mendengar berita dari kampung halamannya, ia menjadi sedih dan menangis. Itu sebabnya dengan keberanian dan iman ia berkata kepada raja. " Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali." (Nehemia 2 :5) Keputusan yang diambil Nehemia ini cukup berani, sebab saat itu ia berhadapan dengan raja. Sebagai orang kepercayaan namun bersungut-sungut karena Tembok Yerusalem, tentu ia bakal mendapat hukuman dari raja. Namun kita lihat, ia berani mengutarakan perihal ini kepada raja. Artinya apa? Artinya Nehemia siap meninggalkan kesenangan ini.
Memang kalau kita tidak berani mengambil resiko, maka kita tidak akan pernah dapat meninggalkan “wilayah kesenangan” kita. Ada orang memang tidak mau mengalami kesusahan sedikitpun. Percaya kepada Tuhan Yesus, berbakti di gereja, memberi persembahan baginya itu sudah cukup. Kalau diajak untuk terlibat di dalam pelayanan, maka hal ini yang menjadi pergumulannya. Baginya tugas ini rasanya berat sekali, ia merasa seperti mengorbankan segala-galanya.
Tatkala Nabi Hosea diminta Tuhan untuk mengawini perempuan sundal, tentu hal ini bukan suatu tugas yang gampang. Namun Hosea rela mengorbankan harga dirinya, keluar dari kenikmatan hidup sebagi seorang nabi, yang kemungkinan besar karena hal ini ia akan diejek dan dicaci. Hosea berani membayar harga, karena ia tahu Tuhan Allah telah membayar harga kepadanya juga.
Jaman sekarang di gereja kita tidak susah mencari orang yang mau melayani Tuhan, apalagi yang peranannya di depan, misalnya Paduan Suara, Pemimpin Pujian dan sebagainya yang dapat terlihat oleh orang banyak, karena baginya ada nilai plus dan kebanggaan tersendiri. Namun kita sulit mencari orang-orang yang rela berkorban buat Tuhan. Apalagi karena itu mereka yang harus mengeluarkan uang, diejek, dicaci, dimarahi. Tidak banyak yang berani mengambil resiko dan berkorban? Bagaimana dengan anda?

3. Langkah ke tiga, harus beriman

Tatkala Abraham diminta Tuhan Allah keluar dari tanah Ur Kasdim, tentunya hal ini bukan suatu keputusan panggilan yang gampang. Apalagi Abraham sendiri tidak tahu kemana ia harus pergi, sebab Allah hanya memberikan suatu petunjuk pergilah ke suatu negeri. Negeri yang mana? Dahulu belum ada peta yang jelas, itu berarti ia harus keluar dari kesenangan yang telah dibangun bertahun-tahun beserta sanak saudaranya. Kejadian 15 : 7 mencatat firman TUHAN kepadanya: "Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu." Kalau tidak hanya dengan iman, tentu tidak mungkin Abraham dapat melangkah maju. Apalagi ketika ia harus mempersembahkan anak kesayangannya Ishak, anak yang ditunggu kelahirannya selama 25 tahun, tentu ini pergumulan berat. Sekali lagi, jika tidak dengan iman, tentu iman yang dimaksud di sini bukan hanya sekadar percaya kepada Allah, tetapi sekaligus ada penyerahan secara total kepada Tuhan, dan mempercayakan seluruh hidup kita kepadaNya.
Saya kurang tahu bagaimana pergumulan anda tatkala suatu hari harus keluar dari “wilayah” yang anda suka dan senangi selama ini? Banyak orang maunya yang senang dan gampang., asalkan semua sudah dipersiapkan dan terjamin baru melangkah. Di gereja juga sering ditemukan kejadian seperti ini, apabila semua dana telah tersedia, barulah semua program itu dikerjakan, maunya yang instan. Kalau dana belum tersedia, jangan pikir ada tindakan lanjutnya. Hal ini tentu tidak sesuai dengan prinsip kekristen yang mengatakan bahwa “Allah akan Menyediakan”. Lihat Abraham ketika keluar dari kesenangan hidupnya, Allah tetap memeliharanya, lihat Musa, Allah juga menjaga dan memeliharanya, walaupun kadang ada kesukaran dan jalan buntu namun Allah membuka jalan keluar. “ Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. “ (1 Korintus 10 : 13)
Surat Ibrani mencatat banyak tokoh-tokoh yang diminta keluar dari kesenangannya, dan hanya dengan iman saja mereka lakukan itu. (lihat Ibrani 11). Dengan iman maka Petrus keluar dari wilayah kesenangannya, kemudian berjalan di atas air. Namun tatakala imannya goyah, maka iapun tenggelam. Dengan iman Daniel dan kawan-kawan harus mempertahan diri, dan mereka tidak makan makanan hidangan raja.
Saya ingat sekali tatkala kuliah di Seminari, salah satu peristiwa penting di dalam hidup saya yang harus out of comfort zome adalah masalah kehidupan di Asrama. Di sana kami dibentuk dengan tidak mengalami kebebasan seperti biasanya. Setiap hari harus kuliah, bangun dan tidur ditetapkan jamnya, kehidupan dipantau dan diatur, masuk-keluar juga terbatas, seminggu hanya boleh sekali saja. Tidak boleh berpacaran, tidak boleh nonton dan banyak lagi. Nah untuk menghadapi zona yang baru ini, kalau tidak berdasarkan kesukarelaan, rela berkorban dan berjalan dengan iman, tentu tidak dapat melewati hari-hari dengan penuh suka-cita, hidup rasanya seperti tersiksa.
Jangan berpikir setiap kita out dari comfort zone itu berarti memasuki kondisi yang tidak menyenangkan? Tatkala kita memutuskan untuk berpacaran, menikah, pindah pekerjaan, kuliah di Luar Negeri dan sebagainya, kita sudah memutuskan untuk keluar dari wilayah kenyamanan kita. Jadi mestinya kita tidak perlu gentar dan takut, karena di zona yang baru ini pasti kita akan menemukan comfort yang yang tersendiri. Masalahnya adalah, sudah siapkah anda melangkah?

*) Penulis adalah rohaniwan, penulis, lulusan Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, yang saat ini melayani di Gereja Injili Indonesia San Jose, California.

http://buku2006.blogspot.com
Read More......

12 Juli 2007

KEMBANGKAN NILAI-NILAI KELURUHAN DALAM DIRI ANDA SEJAK DINI

Nilai-nilai Keutamaan
  • Apa yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik?
  • Memberi nilai pujian yang baik kepada seseorang atau kelompok tertentu, tetapi disisi lain kita memberi cela kepada kelompok yang lain. Mengapa?

Jika kita mencari dasar yang lebih mendalam atas sikap dan perlakuan yang berbeda-beda itu, maka kita akan memasuki wilayah teori etika. Kita mencari fundamen rasional atas penilaian kita itu. Tentu saja, kalau berbicara tentang “perbuatan yang baik”, yang kita maksudkan adalah baik dari sudut moral, bukan dari sudut teknis atau sebagainya. Bisa saja, menurut segi teknisnya suatu perbuatan adalah baik sekali, walaupun dari segi moral perbuatan itu justru buruk dan karena itu harus ditolak.

Teori-teori Etika selain Teori Keutamaan yang menjadi pokok bahasan tulisan ini, kita mengenal juga teori utilitarisme, teori deontologi dan teori hak yang dijelaskan secara secara singkat.

  1. Teori Utilitarisme berasal dari kata latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat secara keseluruhan. Jadi utilitarisme ini tidak boleh dimengerti dengan cara egois saja. Perbuatan yang sempat mengakibatkan paling banyak orang merasa senang dan puas adalah perbuatan yang terbaik.

  2. Teori Deontologi yang setidak-tidaknya dengan implisit sudah diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting. Yang memberi pendasaran filosofis kepada teori deontologi adalah filsuf besar dari Jerman, Immanuel Kant (1724 -1804). Mengapa suatu perbuatan disebut baik? Menurut Kant, suatu perbuatan adalah baik, jika dilakukan karena harus dilakukan atau dengan kata lain jika dilakukan karena kewajiban. Kant mengatakan juga; suatu perbuatan adalah baik, jika dilakukan berdasarkan “imperative katagoris”.

  3. Teori Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu teori hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis. Entah menjadi raja, atau lahir sebagai bangsawan, atau termasuk rakyat biasa, martabatnya selalu sama. Menurut teori hak, perbuatan adalah baik, jika sesuai dengan hak manusia. Semua teori ini didasarkan pada prinsip (rule based).

Di samping teori-teori yang disebutkan diatas, mungkin lagi suatu pendekatan lain yang tidak menyoroti perbuatan, tetapi memfokuskan pada seluruh manusia sebagai pelaku moral. Tidak ditanyakan :”what should he/she do?, melainkan: “what kind of person should he/she be?”. Teori yang dimaksud adalah teori keutamaan. Teori keutamaan (virtue) ini akan memandang sikap dan ahlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur atau murah hati melainkan apakah orang itu bersikap adil, jujur dan murah hati dan sebagainya.

  1. Dalam etika dewasa ini terdapat minat khusus untuk teori keutamaan sebagai reaksi atas teori-teori etika sebelumnya yang terlalu berat sebelah dalam mengukur perbuatan dengan prinsip atau norma. Namun demikian, dalam sejarah etika teori tidak merupakan sesuatu yang baru. Sebaliknya, teori ini mempunyai suatu tradisi lama yang sudah mulai pada waktu filsafat Yunani kuno. Dalam hal ini tokoh besar yang masih dikagumi sekarang, adalah Aristoteles (384-322 SM).
  2. Teori keutamaan sekarang untuk sebagaian besar menghidupkan kembali pemikiran Aristoteles. Kadang-kadang virtue diterjemahkan sebagai “kebajikan” atau “kesalehan”. Tetapi terjemahan lebih baik dalam bahasa Indonesia adalah “keutamaan”, karena terjemahan itulah paling dekat dengan kata arete yang dipakai Aristoteles dan seluruh tradisi filsafat Yunani.

Apa yang dimaksudkan dengan keutamaan?

Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : “disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral.”

Kebijakan, misalnya merupakan suatu keutamaan yang membuat seseorang mengambil keputusan tepat dalam setiap situasi.

Keadilan adalah keutamaan lain yang membuat seseorang selalu memberikan kepada sesama apa menjadi haknya.

Kerendahan hati adalah keutamaan yang membuat seseorang tidak menonjolkan diri, sekalipun situasi mengizinkan.

Suka bekerja keras adalah keutamaan yang membuat seseorang mengatasi kecendrungan spontan untuk bermalas-malasan. Ada banyak keutamaan semacam ini. Seseorang adalah orang yang baik jika memiliki keutamaan. Hidup yang baik adalah hidup menurut keutamaan.

Hidup yang baik adalah virtuous life, hidup keutamaan.Keutamaan tidak boleh dibatasi pada taraf pribadi saja, tetapi selalu harus ditempatkan dalam konteks komuniter. Hal itu sudah digaris bawahi dengan tekanan besar dalam pemikiran moral Aristoteles. Menurut pemikir Yunani ini, hidup etis hanya mungkin dalam polis, dalam negara-negara yunani waktu itu. Manusia adalah “mahluk politik”, dalam arti: tidak bisa dilepaskan dari polis dan komunitasnya. Karena itu, bagi Aristoteles kepentingan pribadi tidak boleh dipertentangkan dengan kemaslahatan komunitas (the common good), Ini sebenarnya menjadi alasan utama mengapa ia menolak krematisik sebagai tidak etis. Dipandang dalam perspektif komunitas, bagi Aristoteles kremastistik sama dengan keserakahan. .Untuk sebagian, keutamaan dari Aristoteles tidak dianggap relevan lagi bagi orang modern, dan untuk sebagian lain, keutamaan modern belum tercantum dalam daftar Aristoteles. Lagi pula, aspek komuniter itu menandai juga situasi kita. Keutamaan dalam komunitas Jepang tidak sama dengan keutamaan dalam komunitas Amerika Utara. Dalam Zaman kita pun keutamaan ditandai oleh situasi dan kebudayaan setempat. Diantara keutamaan yang harus menandai perilaku perorangan dalam segala aktivitasnya seperti bekerja, berbisnis, berorganisasi, bergaul dll bisa disebut :Kejujuran , fairness, kepercayaan dan keuletan. Keempat keutamaan ini terkait erat satu sama lain dan kadang-kadang malah ada tumpang tindih diantaranya.

Kejujuran secara umum diakui sebagai keutamaan pertama dan paling penting yang harus dimiliki pebisnis. Orang yang mempunyai keutamaan kejujuran tidak akan berbohong atau menipu dalam pekerjaan yang dilakukan. Walaupun sebenarnya penipuan itu gampang.

Ketiga keutamaan lain bisa dibicarakan dengan lebih singkat Keutamaan kedua adalah fairness. Kata inggris ini sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kerap kali diberi terjemahan “keadilan” dan memang fairness dekat dengan paham “keadilan” tapi tidak sama juga. Barangkali terjemahan yang tidak terlalu meleset adalah sikap wajar.

  1. Fairness adalah kesediaan untuk memberi apa yang wajar kepada semua orang dan dengan “wajar” dimaksudkan apa yang bisa disetujui oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu pekerjaan yang dilakukan.
  2. Kepercayan (trust) juga adalah keutamaan yang penting dalam konteks bekerja/berorganisasi atau berbisnis. Kepercayaan harus ditempatkan dalam relasi timbal balik. Pebisnis yang memiliki keutamaan ini boleh mengandaikan bahwa mitranya mempunyai keutamaan yang sama Ia bertolak dari pengandaian bahwa mitranya pantas diberi kepercayaan atau bersifat bonafide, sebagaiman ia sendiri bonafide juga terhadap mereka. Pebisnis yang memiliki kepercayaan bersedia untuk menerima mitranya sebagai orang yang bisa diandalkan. Hal ini sering mendesak , karena dalam dunia bisnis kerap kali terdapat jarak waktu atau jarak tempat antara satu langkah bisnis dan langkah berikutnya. Keutamaan keempat adalah keuletan (Solomon menggunakan kata toughness). Pekerja harus bertahan dalam banyak situasi yang sulit. Ia harus sanggup mengadakan negosiasi yang terkadang seru tentang proyek atau transaksi yang bernilai besar. Ia harus berani juga mengambil resiko kecil ataupun besar, karena perkembangan banyak faktor tidak bisa diramalkan sebelumnya.
  3. Keuletan dalam organisasi/bisnis itu cukup dekat dengan keutamaan lebih umum yang disebut “keberanian moral”.

Keutamaan sebenarnya lebih cocok untuk digambarkan secara konkret dari pada diuraikan pada taraf teoritis. Dalam filsafat dewasa ini dikenal pendekatan yang disbut “naratif”. Artinya, keberanian filosofis yang mau dibicarakan, tidak diuraikan secara teoritis, melainkan dikisahkan dalam suatu contoh atau kasus konkret. Keutamaan termasuk topik yang hampir secara alami mengundang pendekatan naratif. Kita mengert apa maksudnya keutamaan secara paling baik, bilamana bisa berjumpa dengan figur pebisnis/organisatoris yang benar-benar mempraktekan keutamaan.Kejujuran-Keadilan-Kepercayaan dan Keuletan harus dimiliki oleh seseorang kalau ingin mencapai apa diharapkan. Nilai-nilai Etika moral ini akan teruji dan terbukti dalam tingkah laku/perbuatan orang sehari-hari.

Semoga bermanfaat.

Read More......

17 Februari 2007

HIDUP BERKEMENANGAN

Mazmur 13:1-6
Sering kali di dalam kehidupan sehari-hari kita merasa ragu untuk menceritakan pada orang lain bahwa sesungguhnya kita ini ragu-ragu akan keberadaan Tuhan. Bagaimana kita tidak ragu? Kita merasa telah melakukan cukup banyak untuk Tuhan.

Kita berkorban untuk Dia. Kita menghabiskan tenaga , waktu dan pikiran bahkan uang. Tidak jarang pekerjaan dan keluarga menjadi korban juga gara-gara pelayanan di gereja. Lalu apa hasilnya? Justru segala persoalan, permasalahan dan kesulitan masih saja muncul dalam kehidupan ini? Apa kesalahannya? Apa yang kurang beres? Pertanyaan ini kita simpan di dalam hati, tanpa orang lain boleh mengetahuinya. Kita diam seribu bahasa. Kita tidak berani menceritakan kepada siapapun. Resikonya sangat besar.

Kita bisa dicap kurang rohani, kurang beriman. Apalagi yang mengalami persoalan ini adalah pengurus atau majelis gereja. Terlebih-lebih lagi kalau beliau adalah hamba Tuhan. Orang-orang akan mencemooh kita. “Apa-apaan ini? Pengurus gereja namun masih meragukan Tuhan? Bila pendeta sempat mendengar mungkin Anda akan dipanggil dan dikira belum bertobat. Lebih lebih ekstrem lagi Anda diminta ikut kelas Katekisasi ulang.

Tatkala kita berada dalam posisi demikian, dan pada saat-saat kita merasa ragu. Pernahkah kita ragu atas keragu-raguan kita itu?

Mari kita melihat sedikit latar belakang sipenulis Mazmur ini. Setelah Saul mendengar suara para wanita Yerusalem bernyani memuji kemenangan Daud yang mengalahkan raksasa Goliat, maka mulai saat itu juga kehidupan Daud semakin terancam. Bayangkan saja , tatkala ia dengan santai memetik Kecapi menghibur Saul, tiba-tiba saja sebuah tombak menghujam ke arahnya; namun atas perlindungan TUHAN, Daud lolos. Tidak terhenti sampai di situ. Saul dengan berbagai cara hendak menghabisi Daud. Itu sebabnya Daud harus lari pontang-panting, sembunyi di gua-gua. Sementara itu orang-orangnya Saul tidak henti-hentinya menyerang. Itu sebabnya Daud berada pada posisi yang begitu tertekan dan terjepit. Inilah pengalaman pahit yang pernah dijalani oleh Daud.

Mazmur 13 yang ditulis oleh Daud ini berkisar pada persoalan yang hampir sama. Ayat ini dimulai dengan 4 buah pertanyaan? “Berapa lama lagi TUHAN, kau lupakan aku terus menerus? (How long O Lord, will You forgetme forever). Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku? (How long will You hide Your face from me?) Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku dan bersedih sepanjang hari? (How long must I bear pain in my Soul and have sorrow in my heart all day long?) Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? (How long shall my enemy be excalted over me?)

Pertanyaan yang secara bertubi-tubi dilontarkan oleh si pemazmur membuktikan bahwa beliau merasa berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Kita tidak tahu persis kondisinya pada waktu ia menulis bagian ini. Namun ada dugaan bahwa pemazmur itu takut meninggal dunia, sehingga diperkirakan dia sedang dalam kondisi sakit, coba banding dengan Mazmur 6. Kenapa dan sakitnya apa kita tidak tahu. Bisa saja karena serangan dari musuh sehingga ia bukan sakit secara jasmani, namun sakit mental.

Rupanya pemazmur mulai merasa kuatir , jangan-jangan pengharapannya akan TUHAN itu sia-sia belaka. Imannya tidak dapat pernah mendapat stimulasi dari TUHAN. Doanya belum terjawab. Musuh bertambah banyak mengancam, bahkan saat ini para musuh semakin jaya. Persoalan juga bertambah. Semua kejadian dan keadaan ini yang mengakibatkan pemazmur menjerit dengan suara keras? Berapa lama lagi TUHAN? Kalau kita bandingkan dengan nabi Habakuk, kondisinya juga sama. Orang-orang kafir tiba-tiba menajdi lebih makmur, tanamannya lebih subur. Habakuk juga bingung akan hal ini. Maka ia menjerit “Berapa lama lagi TUHAN”

Kalau kita mau jujur, tanpa disadari kita juga sering menjerit demikian. Tatkala muncul berbagai kekusutan persoalan rumah tangga kita. Ditambah lagi kita mengalami berbagai masalah di kantor, rekan-kerja, kondisi yang tidak menyenangkan. Atau hubungan anatara sesama sanak famili terjadi ketegangan. Atau persoalan ekonomi keluarga yang membuat kita tidak konsentrasi belajar dan bekerja. Nah, persoalan yang bertubi-tubi ini, sering kali memacu kita bertanya pada TUHAN, berapa lagi TUHAN? Kadang hal ini yang membuat kita ragu akan Tuhan.

Salah seorang teman saya yang melayani di Bandung, saat ini sedang berduka-cita. Sebab adik lakinya yang hendak menikah seminggu lagi (mungkin Minggu ini), namun minggu lalu dibunuh oleh orang yang tidak dikenal. Undangan telah dibagikan, semua sudah dipersiapkan, namun kemalangan ini terjadi. Saya dapat membayangkan sang calon pengantin sudah mencoba pakaian pengantin. Mungkin juga rencana honeymoon ke Luar Negeri sudah dipersiapkan. Tetapi, semua sirna, lenyap begitu saja. Dalam kondisi demikain orang dapat mejerit kepada TUHAN berapa lama lagi?

Saya juga bisa merasakan perasaan bagi mereka yang keluarganya mengalami korban gempa di Jogjakarta. Barang kali mereka baru saja bangun pagi, mungkin juga ada rencana-rencana masa depan yang sudah diprogramkan. Namun bencana yang tiba-tiba terjadi seakan-akan tanpa belas kasihan telah menghancurkan segala impian mereka.

Saya kurang tahu apakah Anda pernah bertanya berapa lama kepada TUHAN atau tidak? Kadang dalam perjalanan melayani TUHAN dan tatkala diperhadapkan pada kondisi tertentu saya pernah bertanya demikian. Berapa lama lagi TUHAN? Berapa lama lagi TUHAN , kami sudah berlutut berdoa bahkan juga dengan doa puasa, namun kerinduan jemaat ini akan sebuah Gedung Gereja milik sendiri belum terwujud? Berapa lama lagi Engkau Tuhan membiarkan salah seorang keluarga jemaat di tempat ini menanti terus menerus seorang anak? Berapa lama lagi?

Coba perhatikan kembali ayat 4.
Dalam kondisi kekuatiran , pemazmur kembali berhadapan dengan para musuhnya. Tadinya mereka berimbang, namun sekarang para musuhnya telah melebihinya. Mereka kemungkinan besar mengenyek, menghina dan bersorak-sorak. Itu sebabnya kembali pemazmur berkata “Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati” (NIV menerjemahkan Give light to my eyes, or I wil sleep in death” sedangkan NRSV “ Give light to my eyes, or I will sleep the sleep of death”). Terjemahan dalam NIV dan NRSV memakai “atau”, menunjukkan suatu permohonan pilihan yang menegaskan. “Berikan cahaya atau mati, kira-kira demikian. Ayat ini juga berarti suatu pemulihan (restore), suatu kesembuhan.

Pada saat kita mengalami kesulitan ditambah keterpojokan posisi kita, kadang orang-orang sekitar tidak ada yang dapat mengerti kita. Mungkin mereka juga mengenyek kita dan bersorak akan kegagalan kita. Kita tidak dapat menceritakan pergumulan hidup ini kepada mereka. Satu-satunya cara adalah menceritakan segala persoalan ini kepada Tuhan melalui doa-doa pribadi kita. Kita boleh sepuas-puasnya menceritakan segala hal.

Di beberapa tempat retreat tertentu kadang ada fasilitas bukit untuk kita naik ke sana dan berdoa menyendiri. Waktu itulah kita boleh melampiaskan segala curahan perasaan bagi TUHAN. TUHAN adalah Bapa kita, maka kita tidak perlu sungkan menceritakan kepada-Nya. Saya bersyukur sebagai pendeta, dan tiap minggu diberikan kesempatan berkotbah. Jadi kalau saya melampiaskan pertanyaan-pertanyaan pada TUHAN dalam kotbah tidak masalah. Doa itu bukan sekadar reaksi yang wajar dari orang benar terhadap berbagai kesukaran, namun doa juga merupakan obat mujarab melawan kesesakan hidup. Pernahkah Anda merasakannya?

Terlihat sekali berbagai tuntutan Daud bahwa ia merasa ketidaksabaran menanti jawaban TUHAN. Tuhan seakan-akan bertindak sangat lambat, sementara persoalan datang bertubi-tubi dan cepat. Sama seperti kebanyakan orang, kita lebih senang minta agar TUHAN dengan segala kuasanya menghentikan segala persoalan tersebut. Kita sering lupa bahwa TUHAN juga sanggup memberikan kekuatan pada kita untuk menghadapi dan menang atas persoalan itu. Ayat 5-6 “ Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku. “

Daud mulai sadar, ia melihat ternyata TUHAN Allah yang disembah itu adalah TUHAN yang penuh kasih setia-Nya (unfailing love). Untuk itu maka respon yang ditujukan pada TUHAN adalah ia harus bangkit dari permasalahan dan kesulitan, bukan tenggelam dan terbawa arus. Hidup manusia begitu rapuh , bukan hanya rapu tetapi hidup kita sekaligus begitu lapuk. Gampang rusak. Ia ibarat mutiara yang harus dijaga setiap saat. Itu sebabnya tanpa Kasih setia Tuhan maka semua itu tidak akan terpelihara dengan baik. Antara hidup Normal dengan tidak jaraknya sangat dekat. Manusia normal jika tidak ada penyerahan total pada Tuhan, maka kehidupannya gampang sekali berubah menjadi abnormal.

Kasih setia Tuhan sangat terlihat di dalam diri Daud, bayangkan saja; berbagai bahaya yang semestinya terjadi di dalam dirinya, namun ia senantiasa terluput darinya. Providensi Tuhan sangat nyata di dalam diri Daud. Itu sebabnya imannya mulai terstimulasi, ia menjadi percaya. Bukan hanya itu, ia juga bersorak-sorak; karena penyelamatan dari Tuhan itu jelas dan nyata. Seorang penafsir mengatakan apabila engkau bangkit kembali di dalam Tuhan maka engkau pasti akan bangkit pula dari keputusasaan hidup ini. Inilah yang dimaksud dengan hidup yang berkemenangan itu.

Pelajaran rohani yang kita peroleh dari Daud hari ini terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama, bahwa sebagai manusia kita begitu rapuh dan lapuk. Itu sebabnya bila ada tekanan, kesulitan, persoalan, sakit, dan keputusasaan yang menimpa, kita gampang protes dan bahkan marah serta lupa diri . Namun Tuhan kadang membiarkan itu berjalan terus di dalam hidup kita, hingga kita memasuki tahap kedua. Bukan berarti IA meninggalkan kita, IA mau kita benar-benar sadar bahwa kita butuh pertolongan dari-Nya. Memasuki Tahap ke tiga, ini merupakan Tahap penentuan, ternyata Tuhan yang disembah memang benar-benar memiliki kuasa yang dahsyat. IA sanggup memberikan kita kekuasaan menghadapi berbagai persoalan yang sulit, dan bukan hanya itu. IA juga membawa kita menuju kemenangan.

Dalam rangka memperingati Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, kita diingatkan kembali bahwa IA pergi bukan meninggalkan kita begitu saja. Tetapi di sana IA menyediakan tempat buat kita. Suatu jaminan yang pasti. Kalau kita sudah memiliki suatu jaminan dan pengharapan yang pasti seperti ini, maka selama proses perjalanan menuju ke sana apabila mengalami berbagai rintangan dan hambatan tentu tidak masalah lagi.

Kesalahan terbesar dari setiap manusia adalah, kita lebih senang kalau prosesnya dihilangkan. Kita selalu mau mengambil jalan pintas. Namun pernahkah kita bayangkan jikalau Tuhan juga memakai jalan pintas. Pernahkah kita terpikir mengapa suatu hari yang kita lewati itu 24 jam lamanya. Seakan-akan cukup lama. Ada yang merasa bosan. Namun pernahkah kita juga berpikir apa yang akan terjadi seandainya satu hari hanya kita lewati dalam jangka waktu 5 menit. Pada saat itulah waktu berjalan begitu cepat? Kita tidak sempat melakukan sesuatu. Namun dengan adanya proses waktu yang normal saat ini yang disertai segala permasalahan yang kita hadapi, ditambah lagi kemenangan yang kita peroleh. Kita dapat menyaksikannya kepada orang-orang bahwa Tuhan yang kita sembah bukan Tuhan yang tidak berdaya. Tetapi IA adalah Tuhan yang berkuasa memberikan menyelesaikan mandate kepada kita menghadapi masalah dan IA sanggup menyelesaikannya.

Jika malam hari saya hendak berangkat dari San Jose menuju San Francisco, saya butuh lampu mobil. Namun saya tidak butuh lampu yang dapat menyinari dari San Jose hingga San Francisco. Lampu yang saya butuh adalah , lampu yang sesuai jarak pandang saya mungkin sepuluh hingga dua puluh meter saja sudah cukup. Yang penting adalah saya mengerti direction, dan pasti saya akan tiba di San Francisco. Jadi setiap miles saya boleh dituntun oleh lampu tersebut sudah cukup. Demikian juga proses perlindungan Tuhan dalam hidup kita. Kalau hari ini kita melewati hari-hari kita, itu sudah pertanda Tuhan memelihara kita.

Bersyukurlah kita sekarang ini hidup di dalam jaman Anugerah. Tuhan mengutus Yesus senantiasa mendampingi kita. Kuasanya yang dahsyat melampaui alam semesta. Kita sungguh yakin bahwa IA sanggup memberikan kekuatan kepada kita menghadapi segala persoalan. Kalau tidak , maka tidak mungkin IA mengatakan “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”. (Matius 11 : 28)

Read More......