27 Juli 2008

Berpolitik Demi Rakyat,

Pria paruh baya DR. Ir. Nurdin Tampubolon kelahiran desa Siabalabal, Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara 29 Desember 1954, ini setelah sukses berbisnis sebagai pengusaha dengan berbagai karya nyata, ia merambah ke dunia politik.
Tekadnya sebagai politisi ingin berjuang dan mengabdi menyejahterakan rakyat. Anggota MPR RI 2003-2004 ini berhasil meraih kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Sumatera Utara periode 2004-2009.


Dia dinominasikan menjadi Wakil Ketua DPD. Namun dalam pemilihan dia hanya berada dalam posisi kedua dengan meraih 25 suara, diungguli Irman Gusman yang meraih 50 suara. Calon lainnya, Kasmir Tri Putra (23 suara), Malik Raden (14 suara), Bambang Suroso (delapan suara), dan Mediati Hafni Hanum (satu suara). Sementara mewakili wilayah timur, terpilih La Ode Ida.


Sebagai anggota DPD dia konsisten bersikap netral menghadapi Pemilu Presiden. Nurdin menegaskan hal itu usai bertatap muka dengan Megawati Soekarnoputri, calon presiden dari empat partai besar anggota Koalisi Kebangsaan pada Rabu, 25 Agustus 2004 di kediaman Megawati Jalan Teuku Umar 27-A, Menteng, Jakarta.

Dia pun kini dinominasikan berbagai kalangan akan terpilih menjadi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mewakili wilayah Barat sekaligus keterwakilan golongan yang mencerminkan pluralisme. Dia memang dikenal seorang yang berjiwa kebangsan dan diterima semua golongan.

Pengusaha sukses pendiri, pemilik, sekaligus chairman & chief executive officer berbagai perusahaan yang tergabung dalam Grup Sonvaldy, ini mulai menampakkan kegesitan meraih sukses semenjak mengundurkan diri dari ikatan dinas di PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), di Kuala Tanjung, Asahan, Sumatera Utara di awal tahun 1980-an.

Dia dengan berat hati meninggalkan Inalum, perusahaan patungan Pemerin-tah RI-Jepang yang pernah memberinya kesempatan beasiswa Association Overseas Technical Scholarships (AOTS) Jepang, untuk memperdalam ilmu bidang Electro Mechanical Engineering & Metallurgi selama 15 bulan, ditambah masa bekerja setahun di Sumitomo, Jepang. Anak “Siantar Men” ini mengundurkan diri hanya untuk membuktikan bahwa dia mempunyai kemampuan dan kapasitas lebih serta sanggup bersaing di pasaran.

Tujuannya adalah Jakarta. Jakarta atau Bandung yang mempunyai perguruan tinggi ternama Universitas Indonesia (UI) Jakarta dan Institut Teknologi Bandung (ITB), adalah dua kota rantau idaman Nurdin yang pernah tertunda sebelumnya. Ketika tamat SMA ayahnya, Umar Tampubolon tidak mengijinkannya mengambil kuliah kesarjanaan kecuali setingkat akademi, itupun Akedemi Tekstil di kota Medan.

Alasan ayahnya yang hidup dari bertani dan mengelola sebuah pabrik padi di Siabal-abal, masih ada kakak dan abang Nurdin berstatus mahasis-wa membutuhkan biaya besar. Nurdin, anak ketiga dari sepuluh bersaudara -yang di kemudian hari ke-10 anak bersaudara itu menamatkan pendidikan hingga tingkat sarjana semua, merasa “dipaksa” masuk akademi agar cepat selesai dan langsung bekerja.

Dalam batinnya timbul “pemberontakan”. Sebab dalam keyakinan hati dia merasa mempunyai kesanggupan bersaing memasuki UI Jakarta atau ITB Bandung. Maklum, sepanjang Sekolah Dasar, SMP dan SMA dia selalu juara-juara umum tingkat sekolah. Semenjak SMP minatnya akan soal-soal keteknikan dan teknologi sudah mulai bersemai.

Tanpa sepengetahuan keluarga apalagi ayahnya dia mendaftarkan diri ke Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (FT-USU), Medan, dan diterima. Menginjak kuliah tahun ketiga dia sudah sanggup membiayai sendiri hidup dan perkuliahan dari hasil mem-berikan les dan bimbingan tes di berba-gai tempat. Bahkan, di FT-USU dia diangkat Ketua Bimbingan Tes FT-USU.

Menjelang akhir studi yang sudah empat setengah tahun dijalani masih menyisakan satu tugas akhir, dia memperoleh kesempatan beasiswa dari AOTS Jepang dan bekerja di Sumitomo. Berdasar ikatan dinas, dia harus bekerja di Inalum sepulang dari Jepang di tahun 1981. Kesempatan bekerja di kawasan Sumatera Utara itu dimanfaatkannya untuk menyeselaikan kuliah agar paripurna memperoleh gelar sarjana teknik atau insinyur.

Di Inalum dia sangat disenangi teman-temannya. Nama dia tercatat sebagai salah seorang karyawan pertama bagian produksi yang bekerja di industri peleburan aluminium terbesar di Asia Tenggara, yang baru beroperasi di Kuala Tanjung awal tahun 1980-an itu. “Produksi aluminium pertama Inalum, saya yang kerjakan,” kata-nya bangga. Dia, selain memper-oleh gaji yang relatif cukup besar untuk seorang lajang, Rp 500.000 perbulan ketika itu, ditambah fasilitas rumah dan mobil berikut supir. Tetapi dia meninggalkan semua kemewahan itu sebab merasa belum menemukan cita-cita ideal yang sesungguhnya bisa dicapainya berdasarkan kemampuan dan skill yang dimiliki.

Nurdin mengajukan surat pengunduran diri. “Bos, dan anak buah saya di Inalum waktu saya keluar menangis semua,” kenangnya lagi. “Karena, saya juga kadang-kadang terlalu berani mengambil keputusan.” Konsekuensi mundur adalah dia harus mengganti semua biaya beasiswa yang pernah diterimanya selama di Jepang. Namun, tabungan yang terkuras itu telah berganti dengan selembar surat pengalaman kerja dari PT Inalum yang merekomendasikan dia sebagai karyawan yang “memuaskan”.

Pegawai Negeri

Keputusan berani itulah yang membulatkan tekadnya untuk mencoba menaklukkan rimba Jakarta. Dan sikap itu pula yang mewarnai kehidupannya di kemudian hari. Hari-hari awal di Jakarta diisinya dengan membaca koran, memicingkan mata terhadap setiap bunyi iklan lowongan kerja, lalu mengirim surat lamaran ke berbagai instansi.



Sebuah perusahaan kontraktor, konsultan, dan engineering swasta yang merupakan rekanan Pertamina memanggilnya untuk tes, lalu diterima. Di kemudian hari diketahui perusahaan itu PT Astenica adalah milik Grup Salim.

Dua tahun di sana dirasakannya cukup enjoy bekerja. Akan tetapi, lagi-lagi itu harus ditinggalkan untuk “sekadar” memuaskan permintaan orangtua yang sejak lama menginginkannya harus menjadi pegawai negeri. Kembali, bukti bahwa dia mempunyai track records yang bagus, tuturnya, “Bos saya di Salim juga merasa kehilangan.”

Dia lalu mengajukan lamaran ke berbagai institusi pemerintah dan mengikuti tes, seperti Departemen Pekerjaan Umum (PU), Departemen Pertambangan dan Energi (Deptamben), Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan Bank Bumi Daya (BBD). Uniknya, semuanya bersedia menerimanya sebagai pegawai. Karena harus memutuskan salah satu maka dia pilah-pilah. Di PU dia tolak padahal sudah harus berangkat ke Sorong, Irian Jaya sebab tiket dan segala macam fasilitas sudah disediakan. Di kepalanya masih terngiang kuat keinginan menaklukkan rimba Jakarta.



Dengan alasan sama tidak bersedia tugas ke luar kota panggilan dari PLN pun ditolaknya. Pilihan akhirnya jatuh ke Deptamben dengan pertimbangan sebab dia akan bisa bekerja sampingan untuk memanfaatkan potensi maksimal yang dimiliki. Bank Bumi Daya sebelumnya juga ditolak sebab jadwal kerja perbankan tidak memungkinkannya untuk melakukan pekerjaan sampingan.

Di Deptamben dia dimasukkan di Bagian Perencanaan Program, Direktorat Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi (LPE). Dia mulai mengikuti prajabatan tahun 1984. Hanya dalam tempo satu tahun dia langsung dipromosikan menjadi pejabat Kepala Seksi Evaluasi Pembangunan dan Perencanaan Kelistrikan Nasional, Ditjen LPE, golongan III-C dan pangkat Eselon-IV. Sehingga, untuk memenuhi persyaratan adminitratif kepegawaian pejabat kepala seksi setiap dua tahun sekali golongan dan kepangkatannya dinaikkan oleh atasannya.

Beberapa kesempatan training ke luar negeri dijalani. Seperti selama lima bulan ke Italia mengikuti pelatihan UNDP (United Nation Development Program). Romantisme perjalanan hidup di Italia ditorehkannya dengan memberi anak keduanya nama Valentino. Lengkapnya Dimpos Diarto Valentino Tampubolon lahir ketika dia sedang berada di Italia.

Sambil bekerja sebagai pegawai Deptamben dia memanfaatkan waktu luang mengajar atau menjadi dosen di Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Jakarta maupun UPN Veteran. Termasuk sebagai pekerja paruh waktu di sebuah perusahaan swasta milik Yudo Sugama, anak Kabakin ketika itu Yoga Sugama. Dengan segala kesibukan dan prestasi yang diraih batinnya kembali mulai berbisik, “Saya merasa, kayaknya saya bisa bersaing di luar.”

Semua menjadi berbalik ketika di tahun 1988 dia memutuskan mengundurkan diri dari Deptamben. Peristiwa ini dirasakannya sangat berat sebab banyak tantangan. Dari keluarga, sahabat, dan sesama kolega termasuk atasan di Deptamben yang masih menawarkan fasilitas dan program menggiurkan agar betah bekerja dan tidak jadi keluar.

Bukan hanya menertawakan, ada pula yang menganggap dia ‘sudah lari uratnya’. Opini di lingkungan keluarga mulai terbentuk, ‘orang berani menyogok besar-besar asal masuk menjadi pegawai negeri. Ini, malah ditinggalkan’. Ayahnya terbang dari Medan hanya untuk mengadakan rapat keluarga membahas dan mempertanyakan keputusan terbaru Nurdin.

Istrinya sendiri, Berliana br. Tobing termasuk yang tidak setuju. Dalam dialog diantara keduanya. “Ini, apalagi yang mau dicari. Sudah kepala seksi, golongan III-C, masih muda, kok, ditinggalkan. Orang berlomba menjadi pegawai negeri, bahkan menyogok pun mau, kenapa Anda tinggalkan,” gugat istrinya yang ketika itu telah memberinya tiga orang anak. “That’s way my way, saya harus coba dulu di luar. Saya melihat di pegawai negeri begitu-begitu saja. Jadi, saya coba dulu berusaha” elaknya singkat. “Tapi, kerjaan ‘kan belum ada,”. “Yah, kita berusahalah bagaimana caranya.” Dialog malam itu berakhir putus dengan kesepakatan bahwa keduanya sama-sama tidak sepakat.

Nurdin meyakinkan diri sendiri bahwa dia mampu membangun usaha. Dia lalu mulai membangun bisnis. Pilihannya jatuh ke bisnis berbasis teknologi canggih atau hi-tech (high technology). Pengalaman bekerja di Inalum menangani aluminium membuat ilmunya merasa pas di situ, terutama saat bekerjasama sebagai mitra PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), kini PT Dirgantara Indonesia (DI). Industri pesawat terbang ini menggunakan banyak material aluminium.

“Jadi, saya pilih di sana, kebetulan cocok,” cetusnya. Bendera usaha yang dibangunnya adalah PT Sonvaldy Utama Permata. Sonvaldy, singkatan tiga nama anak pertamanya. Son dari anak pertama Sondang, Val dari anak kedua Valentino yang lengkapnya Dimpos Diarto Valentino, dan Dy dari nama anak ketiga Randy. Sementara kata Utama Permata adalah terjemahan dari konsep orang Batak tentang anak dimana anak adalah segala-galanya atau, anakhonki do hamoraon di ahu.

Demi Rakyat

Sonvaldy Utama Permata kini berubah menjadi holding company setelah berhasil melahirkan berbagai anak perusahaan baru. Cakupan usaha beraneka ragam dari hi-tech, perdagangan, hingga perkebunan kelapa sawit dan perkayuan. “Sampai sekarang perkebunan kita sudah luas,” katanya ringkas.

“Dan, karena saya melihat, dari segi perusahaan juga sudah mulai berkembang, maka, saya inginnya sekarang bagaimana mensejahterakan masyarakat banyak. Itulah target utama saya sekarang, kalau masih diperlukan,” cetus mantan kandidat calon gubernur Sumatera Utara pada pemilihan 2003.

Mensejahterakan masyarakat. Itu sudah dimulai Nuridn dari perusahaan yang kini telah menghidupi ribuan orang karyawan, belum termasuk anggota keluarga karyawan. Konsep mensejahterakan rakyat itu dirumuskannya menjadi visi perusahaan. Visi Sonvaldy, menurutnya, harus menjadi perusahaan yang bisa dibanggakan oleh bangsa. Dan, bersamaan itu Sonvaldy juga harus bisa memperoleh pengakuan internasional. Dalam desainnya perusahaan ini harus bisa menyumbang devisa, menampung tenaga kerja, membayar pajak ke pemerintah, dan mampu mengekspor produk-produk yang dihasilkan.

Ikhtiar Nurdin menyejahterakan masyarakat tidak berhenti di situ. Bermodalkan track records sebagai pengusaha sukses yang telah menghasilkan karya nyata dalam proses pembangunan bangsa, dia mulai memasuki area publik yang lebih luas. Sejak Desember 2003 dia adalah anggota MPR RI mewakili propinsi Sumatera Utara.

Di awal tahun 2003 atas saran dan permintaan teman-temannya sesama alumni FT-USU dia mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara periode 2003-2008, sayang belum berkesempatan terpilih. Nurdin adalah Ketua Ikatan Alumni FT-USU se Jabotabek.

Walau demikian dia tetap berikhtiar mensejahterakan masyarakat banyak, terutama rakyat Sumatera Utara. Dia semakin intens memasuki wilayah politik. Pada Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 5 April 2004, sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dia muncul dengan jargon menarik: Pembangunan dari Rakyat, oleh Rakyat, dan untuk Rakyat. Hasilnya adalah kemenangan suara terbesar kedua.

Nurdin ingin agar pembangunan kokoh maka harus berbasis sumberdaya lokal. Artinya, memanfaatkan segala sesuatu yang memang dimiliki oleh masyarakat Sumatera Utara. Seperti, basis pertanian dan pariwisata. Yang melaksanakan pembangunan harus pula orang lokal yaitu masyarakat yang ada di Sumatera Utara.

“Dengan demikian, tujuan pembangunan yaitu menjadikan masyarakat Sumatera Utara aman sejahtera dan tuan rumah di negerinya sendiri, menjadi bisa tercapai,” ujar penerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari sebuah perguruan tinggi dari Amerika Serikat tahun 1999. Sebelumnya, Desember 1997 pengagum Presiden Amerika Serikat George W Bush dan Presiden RRC Xu Rongji memperoleh penghargaan sebagai ASEAN Development Citra Awards dari ASEAN Programme Consultant Indonesia Consortium

Strategi Pembagunan Berbasis Sumberdaya Lokal

Untuk mengetahui lebih lengkap visi dan misi pengabdiannya membangun Sumatera Utara demi mensejahterakan masyarakat banyak, berikut petikan wawancara TokohIndonesia.Com dengan DR. Ir. Nurdin Tampubolon, Chairman & CEO Sonvaldy Group, di suatu malam di kantornya di Jalan Cempaka Putih Timur Raya No. 5, Jakarta Pusat.

Anda adalah anggota MPR RI mewakili Sumatera Utara. Apa saran Anda untuk pembangunan di Sumatera Utara?

Kita sarankan ke Pemda hingga ke tingkat bawah, bahwa prioritas pembangunan harus melaksanakan pembangunan di segala bidang. Pertama, pembangunan di bidang ekonomi haruslah meningkatkan perekonomian masyarakat, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan meningkatkan taraf hidup mereka secara berkelanjutan.

Kemudian kedua, pembangunan di bidang sosial budaya harus betul-betul menjadi prioritas pula mengingat Sumatera Utara terdiri beragam suku. Begitu plural sehingga kita harus hidup harmonis dalam keberagaman, harus saling menghormati, saling menghargai dan menyatu supaya kehidupan di Sumatera Utara betul-betul kondusif. Ketiga, membangun keamanan dan stabilitas karena hanya di tempat yang stabilitasnya terjaga kita bisa melaksanakan pembangunan. Tiga aspek ini harus ditangani pemerintah secara serius.

Anggota Dewan dan Eksekutif di Sumatera Utara mulai menuntut agar BUMN turut berpartisipasi membantu pembangunan, apakah itu juga masuk dalam program Anda?

Itu salah satu. Tetapi yang terpenting yang akan kita tuju adalah, bahwa pembangunan itu harus kita jalankan berbasis pada sumberdaya lokal. Jadi, sebelum membuat konsep pembangunan kita harus melihat dahulu apa saja kendala yang ada di Sumatera Utara, apa nilai plus dan minusnya, dan apa rencana ke depan.

Sumberdaya lokal yang dimiliki rakyat, itulah yang akan kita kembangkan. Karena itu, saya sebut “Pembangunan dari Rakyat, oleh Rakyat, dan untuk Rakyat”. Dari rakyat maksudnya, apa saja sumberdaya lokal yang dimiliki oleh rakyat, misalnya pertanian, pariwisata dan lain-lain. Oleh rakyat maksudnya, harus rakyat itu sendiri yang melaksanakan pembangunan bukan orang luar. Kemudian, untuk rakyat maksudnya bahwa hasil pembangunan itu ditujukan untuk kemakmuran rakyat.

Lalu, apa saja strategi Anda untuk menjalankan pembangunan yang berbasis pada kerakyatan tersebut?

Strategi pembagunan yang berbasis sumberdaya lokal adalah dengan mengembangkan agrobisnis dan agroindustri. Hanya itulah yang dimiliki oleh rakyat Sumatera Utara, selain pariwisata. Karena, kita juga mempunyai Danau Toba, Berastagi, Nias, dan Pantai Cermin.

Pemerintah, saran saya harus membuat Segilima Emas Pariwisata di Sumatera Utara. Mulai dari, pertama Tanah Karo, kedua Parapat, ketiga Samosi, keempat Nias, dan kelima kembali ke Pantai Cermin. Kalau ini dibangun, maka, tidak ada lagi perbedaan kita dengan kondisi pariwisata di Hawai, Amerika Serikat, atau di Perancis Selatan. Semua Segilima Emas itu akan mendatangkan devisa yang besar ke Sumatera Utara karena kita kaya akan pariwisata.

Dari segi agroindustri kita mempunyai sumberdaya lahan dan manusia. Jika itu dibangun, maka sumberdaya manusia Sumatera Utara yang ada di luar akan kembali sebab telah tersedia lapangan kerja. Kita menjadi bisa mengekspor beras, sayur-sayuran, buah-buahan, dan lain-lain.

Agar bisa mengakomodasi konsep pembangunan tersebut, menurut Anda, seperti apa tipe pemimpin yang dibutuhkan di situ?

Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang mempunyai kapabilitas membangun, mempunyai visi dan misi ekonomi yang bagus, dan yang terpenting dia harus sudah mempunyai experience atau pengalaman dalam pembangunan.

Kemudian, dia juga harus benar-benar acceptable sebab masyarakat Sumatera Utara sangat plural. Selain itu dibutuhkan pemimpin yang harus keras dan fleksibel sebab umumnya masyarakat Indonesia, demikian pula Sumatera Utara masih berpendidikan rendah. Artinya, hukum belum betul-betul bisa diikuti dengan bagus.

Apakah menurut Anda pemimpin itu tidak perlu mampu memberantas KKN atau Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme?

Oh… harus. Pemimpin itu juga harus bisa memberantas KKN. Korupsi harus diberantas dengan clean government, pemerintahan yang bersih; Kolusi dilawan dengan transparansi, keterbukaan; Dan nepotisme dilawan dengan profesionalisme.

Untuk bisa mencapainya, publik harus bisa melaksanakan pengawasan terhadap pemerintah. Jadi, pemerintah harus membuat public control yang melibatkan publik, dunia pendidikan, pers, dan LSM. Jika nanti masih ada korupsi maka publik langsung membukanya agar timbul budaya malu. Dengan demikian tidak akan terjadi lagi KKN, atau hingga seminimal mungkin.

Menurut Anda, mana rekrutmen politik terbaik untuk bisa menemukan pemimpin yang diidamkan tersebut?

Selama ini rekrutmen politik yang ada Sumatera Utara lebih cenderung karena pemimpin itu mempunyai jalur premanisme, ikatan pemuda, dan lain-lain. Rekrutmen itu tidak didasarkan pada segi kemampuan pembangunan. Padahal, yang bisa merasakan pembangunan umumnya adalah orang yang sudah pernah bergelut di bidang pembangunan.

Di Amerika Serikat, contohnya, mereka memilih Senator atau Presiden adalah bekas pengusaha karena dia sudah larut dan inheren dalam proses itu. Bagaimana mungkin saya sebagai birokrat, misalnya, bisa mengadakan negosiasi dengan CEO sebuah perusahaan raksasa kelas multinasional, imposibel itu. Atau, bagaimana negosiasi seorang jenderal dengan seorang pengusaha, kan tidak kena. Jadi, seorang leader gubernur atau presiden haruslah orang yang pernah melakukan pembangunan sebab dia telah merasakan sehingga kena dia.

Bisakah Anda ulangi dan pertegas lagi, deskripsi dan makna Pembangunan dari Rakyat, oleh Rakyat, dan untuk Rakyat yang Anda maksud?

Begini. Pembangunan berbasis sumberdaya lokal artinya, sumberdaya apa yang dimiliki rakyat di suatu daerah itulah yang dibangun. Yang membangun adalah rakyat itu sendiri, dan hasilnya ditujukan kepada mereka. Faktor eksternalnya, pemerintah hanya sebagai to steer not to row, tidak melaksanakan. Pemerintah tinggal memberitahu bagaimana cara bekerja yang lebih efisien, efektif, dan produktif. Pemerintah bersama dunia usaha sifatnya hanya membantu agar rakyat bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Misal sumberdaya lokal Sumatera Utara adalah pertanian: bagaimana cara bertani yang benar agar produksi bagus dan berdaya saing global. Artinya, produktivitas mereka haruslah sama dengan produktivitas di Thailand, Israel, Malaysia, Vietnam, maupun negara agraris lain. Standar itu harus dibentuk. Pemerintah harus menyiapkan fasilitas agar produktivitas rakyat sama seperti di luar negeri.

Seperti, menyiapkan sumber informasi manajemen system tentang pengolahan pertanian. Lalu, menyiapkan sentra-sentra atau Kapet-Kapet (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu) untuk memasarkan produk pertanian, sehingga produk itu harganya tinggi dan berdaya saing global. Dengan demikian rakyat dirangsang untuk berproduksi sebab tidak akan ada lagi kesulitan menjual produk. Di sisi lain mulai terbangun suatu sistem yaitu suatu sistem yang produksi

Kendalanya sekarang, bagaimana mungkin rakyat bisa berproduksi jika pengairan saja tidak dibangun oleh pemerintah. Rakyat, saat menjual produk pun masih dengan sistem tengkulak. Sebab, meski rakyat punya lahan kopi tapi mereka tak bisa menjualnya karena pemerintah tidak mau tahu dengan penyakit mereka, tidak mau tahu dengan kesulitan yang rakyat alami. Kalau pemerintah memfasilitasi pemasaran, tekonologi produksi, hingga sumber pembiayaan atau financingnya saya yakin rakyat akan berproduksi optimal.

Tentang pembangunan Segilima Emas Pariwisata itu, selama ini hal tersebut justru terabaikan padahal potensial menghasilkan devisa, pendapat Anda?

Sumberdaya lain Sumatera Utara adalah pariwisata. Tentang segilima emas tadi, begitu wisatawan asing maupun domestik tiba di Medan langsung dibawa ke Berastagi. Dari Berastagi dibawa lagi ke Parapat, dari Parapat dibawa ke Samosir, dari Samosir dibawa naik pesawat ke Nias, dari Nias dibawa lagi ke Pantai Cermin, dan dari Pantai Cermin wisatawan itu pulang ke mana dia mau atau ke negara asalnya.

Apakah itu mungkin, mengingat di Sumatera Utara waktu berkunjung wisatawan rata-rata rendah, atau, bagaimana menurut Anda cara untuk menaikkannya?

Hal itu terjadi karena belum tersedia fasilitas pariwisata di Sumatera Utara. Wisatawan itu, dari Berastagi dia kembali lagi ke Medan sebab Berastagi tidak difasilitasi aroma pariwisata seperti hotel, masakan, dan hiburan tidak punya.

Kemudian, akses dari satu tempat pariwisata ke tempat lainnya tidak professional. Wisatawan itu sendiri yang harus mencari tahu bagaimana jalan ke Parapat, misalnya, sebab tidak ada organism tourist. Pun, masyarakat sekitar lokasi wisata tidak ernah berpikir bagaimana agar wisatawan lebih betah lama tinggal di Sumatera Utara sehingga duitnya ikut tinggal di sana.

Jadi, karena tidak ada akses antar lokasi wisata, fasilitas wisata yang terbatas, dan masyarakat yang bukan masyarakat pariwisata sebab head attitude atau tabiat mereka bukan masyarakat wisata, maka, akibatnya wisatawan merasa asing berada di situ. Untuk itulah perlu dibangun sentra wisata segilima emas, lalu dipromosikan ke dalam maupun luar negeri, dan saya yakin kita akan mendapatkan devisa yang besar untuk Sumatera Utara.

Jika di Sumatera Utara dalam sebulan saja terdapat 100.000 wisatawan asing, yang menghabiskan uang rata-rata 500 dolar AS dalam 10 hari perjalanan, padahal angka itu masih terlalu kecil menurut saya, maka, hasilnya adalah memperoleh devisa 50 juta dolar AS atau Rp 500 miliar setiap bulan. Agar wisatawan bisa bertahan lebih lama harus diciptakan suasana segilima emas: kalau belum mengunjungi lima point-point segilima emas maka rasanya belum puas berkunjung ke Sumatera Utara.

Jadi, kalau wisatawan itu satu hari saja di Tanah Karo, dua hari di Parapat, dua hari di Samosir, tiga hari di Nias sebab Nias adalah tempat berselancar terbaik kedua di dunia, satu hari di Pantai Cermin, itu semua sudah mencapai 10 hari. Nilai tambah lain bagi masyarakat daerah wisata adalah pembelian souvenir, hotel, makanan dan lain-lain yang akan sangat signifikan terhadap perekonomian Sumatera Utara. Seperti di Perancis selatan, kebetulan saya sudah pernah ke sana, mulai dari Toulose, ke Nice, hingga Monaco dan segala macam orang bisa betah di sana sampai 20 hari berlibur. Padahal, panorama Sumatera Utara masih jauh lebih bagus dibanding Perancis.

Adakah mekanisme yang baik untuk mewujudkan Segilima Emas Pariwisata dimaksud?

Sumatera Utara kalau dibangun secara benar dan KKN diminimalkan penghasilannya besar. Sebab kita mempunyai BUMN seperti perkebunan, pertambangan, tenaga listrik, dan lain-lain. Itu sangat besar. Kalau pemerintah mempunyai rencana, sebagian dana dari pendapatan itu bisa dialokasikan untuk membangun pariwisata secara bertahap. Saya kira itu tidak akan menjadi masalah.

Pemerintah Daerah bisa membentuk BUMN baru sebagai pengelola pariwisata Sumatera Utara. Atau, pemerintah membuat suatu rencana masterplan pariwisata, ditawarkan ke investor untuk membangun fasilitas wisata yang dibutuhkan. Kepada investor itu Pemerintah memberikan fasilitas untuk mempermudahnya melakukan pembangunan, misalnya kemudahan perizinan, pajak, akses terhadap jalan yang akan dibangun, ketersediaan lahan, menciptakan iklim yang kondusif, serta dibantu pinjaman dari Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (BPDSU).

**********************
Pertanian Indonesia yang tertinggal sering diperbandingkan dengan Thailand. Dimana letak permasalahan yang sesungguhnya?

Pendapatan Thailand dari agroindustri sangat besar. Mereka terbesar di Asia Tenggara. Tetapi jangan silap, pendapatan itu lebih besar disumbang oleh pariwisata. Jadi, kalau pendapatan pertanian Thailand dari agroindustri 100, maka sumbangan pariwisatanya adalah 70. Ada jutaan wisatawan yang masuk ke Thailand setiap tahun. Masyarakat mereka juga sudah memiliki budaya wisata yang pas. Agroindustrinya sudah tidak lagi dibina oleh pemerintah, melainkan oleh masyarakat langsung. Tapi, subsidi dan pemasaran masih oleh pemerintah.

Bukankah adalah fakta, bahwa tingkat produktivitas lahan Sumatera Utara sangat rendah?

Karena itulah mari kita kembali ke sikap awal, memberdayakan masyarakat lokal untuk meningkatkan kersejahteraan agar mereka aman sejahtera dan tuan di negeri sendiri. Yang pertama-tama harus dilakukan adalah men-justifikasi apa saja permasalahan di daerah-daerah. Permasalahan di masing-masing daerah berbeda dengan daerah lain. Kemudian carikan jalan keluarnya.

Kalau masalahnya adalah tidak ada sumber air tapi memiliki lahan pertanian, maka segera bangun irigasi agar bisa melayani rakyat. Kalau rakyat kesulitan memasarkan produk maka pemerintah harus membelinya, lalu jual, atau buka sentra-sentra ekspor maupun pasar lokal supaya produk rakyat itu terpasarkan. Kalau iklim tidak kondusif karena perbedaan budaya ‘a’ dengan budaya ‘b’ sehingga tidak bisa berproduksi secara kompak, itu juga harus diselesaikan. Pembangunan sosial budaya diperlukan agar kita bisa hidup harmonis dalam segala keberagaman yang ada.

Jadi pecahkan permasalahan mereka: apa yang membuat mereka tidak berproduksi, atau mengapa produktivitasnya rendah. Kalau teknologi bercocok tanam atau bibit yang tidak cocok, pemerintah harus segera mencari tahu bibit dan teknologi apa yang tepat untuk mereka. Jangan pula teknologi mengurangi kerajinan atau menciptakan pengangguran baru. Penggunaan teknologi haruslah membantu kerajinan agar mereka lebih efektif, efisien, produktif, dan tidak bertentangan dengan budaya lokal. Kita inginkan teknologi yang semakin menguatkan budaya supaya warnanya tetap Sumatera Utara.

Lalu, apa sih perbedaan mendasar antara produktivitas kita dengan Thailand?

Jika produktivitas lahan kita saat ini masih empat ton padi sementara Thailand sudah delapan hingga sepuluh ton, saya percaya lahan kita bisa produktif seperti Thailand. Sebab, apa bedanya lahan kita dengan mereka toh sama-sama tanah. Cuma, rakyat di sana sudah dirancang untuk berproduksi. Petani Thailand bisa membeli mobil dari hasil pertanahannya, sekolahkan anak, makan di restoran, liburan segala macam. Dia akan merasa rugi jika tidak mengusahakan tanahnya.

Kita tidak bisa berproduksi optimal karena kendala-kendala tadi. Support dari pertaniannya tidak ada, demikian pula support dari pemasaran. Contoh, di Tarutang ada kopi namanya “Kopi Sigarar Utang” harganya rendah sekali. Kalaupun dipanen, biaya panen sudah lebih mahal dari harga kopi, karena tengkulak-tengkulak sudah menunggu. Akhirnya mereka menghentikan penanamannya.

Mungkin masih ada ketidaksamaan paham antara masyarakat dan pemerintah dalam hal ini?

Rakyat dan pemerintah harus satu, persepsi harus sama: apa yang dimiliki pemerintah, apa yang dimiliki rakyat digabung bersama-sama untuk menciptakan produk yang berdaya saing global, berdaya saing tinggi, dan dengan harga tinggi pula.

Harga kol satu kilo di tanah Karo mungkin hanya Rp 100, tetapi di Singapura sudah 5 dolar. Saat ini kol masyarakat lebih baik busuk karena pemasarannya tidak tersistem. Jadi, dia berproduksi, pasarkan sendiri, bawa ke Medan, sampai di sana sudah busuk. Atau, pemasaran tidak tersistem sengaja diciptakan oleh saingan sehingga kol-kol mereka busuk. Kasihan rakyat yang disana.

Jika dilihat di Thailand, sistem mereka sudah dibangun dengan basis ekonomi rakyat atau sumberdaya lokal. Petaninya tinggal berproduksi, pemasaran bukan urusan mereka. Teknologi atau sumber informasi dihadirkan untuk menciptakan produktivitas tinggi. Lahan satu hektar di Indonesia hanya bisa menghasilkan empat ton padi padahal Thailand sudah sepuluh ton.

Dengan effort yang sama saya bisa mendapat empat ton sementara di Thailand sepuluh ton, berarti saya menjual empat ton padi dengan harga sepuluh ton, ‘kan sudah sangat berbeda, ada delta di sana. Kemudian, di sisi lain Thailand tidak sulit memasarkan. Dari produktivitas dia sudah memperoleh keuntungan besar. Kalau di sana harga Rp 2.800/kg untuk sepuluh ton dia sudah dapat Rp 28 juta, sementara saya yang empat ton hanya dapat uang Rp 10 juta kalau harganya Rp 2.500/kg.

Produk agroindustri Thailand seperti jambu, durian, pepaya dan segala macam dari satu lahan yang sama produktivitas dan kualitasnya juga berbeda. Kenapa, karena asupan-asupan teknologi sudah sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Tanaman berproduksi sudah sesuai dengan optimalisasi yang dimiliki yaitu lebih cepat berbuah, lebih besar, dan berkualitas bagus

Apakah pembangunan berbasis sumberdaya lokal ikut Anda agendakan saat mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara beberapa waktu yang lalu?

Iya, jelas, jelas makanya sampai di tahap akhir saya masih ikut bertarung walau ada permainan politik di situ. Masalahnya adalah saya bukan orang partai.

Agenda kita mensejahterakan rakyat hanya dengan cara itu, menghidupkan agroindustri dan agrobisnis karena rakyat kita 85 persen hidup dari pertanian atau pedesaan. Berarti pertanian itu yang harus dibangun. Sejarah pun menunjukkan nenek moyang kita dahulu sumber pendapatannya dari pertanian. Sekarang, bagaimana cara agar pertanian lebih efektif, lebih efisien, lebih cepat berproduksi dengan kualitas bagus. Itu yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Pertanian adalah inti perekonomian kita.

Apa saja bentuk konkrit agenda Anda yang disampaikan ketika itu?

Kalau saya jadi gubernur, ketika itu saya katakan, sekolah-sekolah akan saya bangun dengan berbasis teknologi pertanian, kalau dia sekolah teknik. Kalau dia sekolah ekonomi, ekonomi pertanian. Atau, sekolah apapun dia akan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pertanian dan pariwisata.

Kita harus lihat sepuluh, dua puluh, limapuluh hingga seratus dan limaratus tahun ke depan. Kalau kita gagal membangun teknologi pertanian di Indonesia maka kita akan semakin terpuruk. Sejarah menunjukkan, Thailand maju karena pertanian, Malaysia maju karena pertanian, Vietnam juga begitu. Negara maju seperti Inggris Perancis mereka maju karena pertaniannya maju, dari hasil pertanian itulah mereka membangun dan mengembangkan teknologi atau industri lain karena mereka sudah mempunyai duit, basis, based load. Tapi pertanian mereka tetap kuat sebagai basic.

Kenapa hasil industri pertanian luar lebih murah daripada hasil pertanian Indonesia, itu karena industri pertanian kita produktivitasnya sangat rendah dan berbiaya sangat tinggi. Kalaupun kita bersaing harga kita sudah terlalu mahal. Produk industri mereka masuk ke Indonesia lebih murah jadinya.

Belum lagi kita membuat over valued exchange rate, dimana kurs yang kita pakai ditetapkan oleh pemerintah sehingga over valued. Jadi kurs belum bebas bergerak sehingga ekspor kita menjadi terhambat. Produksi dalam negeri menjadi mahal sementara produksi luar lebih murah karena pemerintah harus bayar selisih kurs dolarnya. Kita menjadi negara yang membohongi produk kita sendiri. Selama zaman Orde Baru berlaku over valued exchange rate, pemerintah membayar untuk selisih kurs.

Ada persepsi di kalangan pemerintah maupun rakyat bahwa pertanian tidak mempunyai masa depan, komentar Anda?

Yah… sekarang ini kan pimpinan kita sedang sibuk dengan politik-politik-nya, sibuk dengan partainya, sibuk memperjuangkan golongannya, sibuk mempengaruhi rakyat dengan membagi-bagi duit melalui jaring pengaman sosial, raskin dan segala macam. Ini ‘kan hanya bahasa yang diperhalus untuk memikat hati rakyat. Tapi itu short therm, jangka pendek sekali untuk mempengaruhi rakyat supaya golongan inilah yang dikatakan bagus. Itu tidak murni memperjuangkan rakyat. Yang kita mau ‘kan berkelanjutan.

Masyarakat tidak diberikan suatu harapan yang pasti, misalnya melalui sejumlah pembinaan dan fasilitas, bahwa aktivitas produksi yang mereka lakukan akan bisa membiayai hidupnya yang lebih terjamin. Itu sebab, dari daerah pertanian semua berlomba ke kota. Sumberdaya manusia yang di desa, tanpa bermaksud mengecilkan mereka, adalah SDM yang kelas dua kelas tiga kelas empat. Padahal, yang bisa melakukan percepatan akselerasi needs atau kebutuhan mereka yang berjangka panjang adalah SDM yang berkualitas.

Ini harus diubah. Elit-elit politik harus mementingkan kepentingan rakyat, generasi penerus itu mau ke mana supaya bisa berdaya saing tinggi. Karena daya saing kita adalah daya saing global. Orang yang di Parongi sana bukan lagi berdaya saing dengan orang di Garoga, melainkan dengan orang di Malaysia, Thailand, Jepang.

Namun, kita juga harus sepakat bahwa kalau mau membangun maka semua harus dibenahi. Fasilitas dan gaji aparat pemerintah harus mencukupi. Kalau BUMN, perusahaan-perusahaan daerah, atau sumber-sumber penghasilan daerah dikelola dengan benar tanpa dikorupsi maka gaji dan insentif pegawai negeri akan bisa memberi mereka hidup yang cukup.

Jika itu telah terjadi, sistem pembangunan masyarakat pedesaan yang telah menemukan permasalahan, solusi berikut implementasinya bisa dilaksanakan. Langkah selanjutnya adalah menegakkan supremasi hukum. Pengawasan eksternal berupa pengawasan publik di semua tingkatan harus melibatkan LSM, dunia pendidikan, pers dan masyarakat. Jika masih ditemukan suatu penyelewengan maka publik langsung membuka kasusnya ke masyarakat untuk menimbulkan budaya malu. ‘Di sini ada korupsi Rp 100 juta’, atau Rp 10 juta, dibuka.

Untuk menjalankannya tentu dibutuhkan pemimpin yang bukan hanya berkualitas namun juga sudah berpengalaman dalam pembangunan. Syarat apa lagi yang dibutuhkan pemimpin di Sumatera Utara, menurut Anda?

Kendalanya sekarang, apakah bupati atau gubernur punya sense of business mengelola sumberdaya yang ada di daerahnya. Kalau dikatakan mereka mengerti, berarti sesungguhnya sudah harus tidak ada lagi di sana kecemburuan sosial atau pengangguran. Sebab, mereka sudah harus bisa mengalokasikan semua sumberdaya yang ada, yaitu manusia, alam, financing, penghasilan atau industri-industri dan pendapatan asli daerah (PAD) yang bisa mereka raup. Jika itu mereka optimalkan otomatis aspek bisnis yang ditumbuhkembangkan akan produktif.

Sekarang ada beberapa aspek yang harus kita soroti: apa penyebab perekonomian tidak bisa jalan. Ternyata, sebagai contoh, untuk menjadi bupati saja dia harus mengeluarkan uang miliaran rupiah, demikian pula untuk menjadi calon anggota legislatif (Caleg). Sehingga, setiap orang yang masuk ke sana sudah pasti mencari cara bagaimana mengembalikan uangnya itu.

Supaya misi pemerintahan betul-betul bisa diimplementasikan, aspek bisnis pemerintahan bisa jalan, maka orang yang masuk ke sana haruslah orang-orang yang tidak lagi mencari duit sehingga dia tidak perlu memikirkan korupsi. Kalau dia masuk ke dalam sana harus bayar Rp 50 milyar, atau dia titipan sponsor, maka dia harus kembalikan uang atau jasa sponsor tersebut.

Jika menjadi eksekutif harus mengeluarkan uang untuk mencari uang, konsep DPD bisakah menghapus fenomena tersebut?

Ini permasalahannya. Dan kalau ini bisa dieliminir secara perlahan-lahan akan menghasilkan suatu percepatan untuk pencapaian tujuan pembangunan. Produktivitas kita merendah paling banyak karena korupsi. Mereka tidak memikirkan apa yang diinginkan oleh rakyat. Apakah itu di pemerintahan kabupaten, propinsi, apakah mereka itu bupati, walikota, gubernur sebab mereka telah menganggap dirinya sebagai raja-raja kecil di daerah. Bukan menganggap dirinya melayani dan memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.

Dengan adanya sistem DPD sekarang, maka seharusnyalah bisa diperoleh DPD yang mempunyai visi membangun, punya sense of business, dan sudah memiliki wawasan nasional dan internasional agar dia lebih mudah membawa daerahnya go nasional maupun go internasional. Dalam forum-forum tertentu dia bisa melihat apa yang menjadi kepentingan daerahnya. Tetapi kalau DPD yang dihasilkan masih tetap yang itu-itu maka hasilnya pun begitu-begitu saja. Sebab apa yang bisa dia buat. Ini permasalahannya yang membuat rakyat akan semakin pesimis. Dengan adanya DPD sedikit banyak pasti akan ada perubahan. Tapi apakah rakyat tahu siapa yang lebih pas didudukkan untuk mewakili daerahnya.

Apakah itu sesuai dengan isu yang pernah Anda lontarkan dahulu, bahwa calon gubernur atau pejabat publik haruslah orang yang sudah mapan secara ekonomi?

Memang, harus sudah begitu. Di Amerika Serikat tidak bisa seorang gubernur kalau dia miskin, atau tidak mempunyai karya nyata dalam membangun. Tidak bisa seorang rakyat biasa, kalaupun dia punya pengaruh sebagai pimpinan organisasi, tiba-tiba menjadi gubernur. Harus dia punya duit. Duitnya itulah yang dipakai untuk membangun daerahnya, bukan untuk korup.

Sebab seorang gubernur harus sudah siap untuk mengabdi kepada rakyat, bukan memperkaya diri. Demikian pula untuk DPD. Dipilihlah orang yang mempunyai integritas, visi membangun, benar-benar bisa membawa aspirasi rakyat dan memperjuangkannya untuk dilaksanakan oleh pemerintah.

Agenda Anda terdekat adalah bertarng berebut kursi DPD. Apa yang akan Anda lakukan kelak jika terpilih?
Kalau saya menjadi DPD saya akan membuat Tromol Pos pengaduan, misal namanya Nurdin Center. Setiap ada pengaduan masyarakat masukkan ke situ. Begitu saya baca langsung saya sampaikan ke publik. Jadi, minimal pemerintah tergelitik jangan macam-macam. DPD itu jangan jadi temannya pemerintah untuk korupsi, kolusi dan nepotisme. Kita harus benar-benar di rakyat, sebab kita adalah sparring partner pemerintah bukan teman untuk berkorupsi dan berkolusi. Kalau pemerintah salah dalam melaksanakan pembangunan, buka melalui Tromol Pos. Saya akan lakukan itu.

Itulah tugas DPD yang sebenarnya. Dan itu konstitusional. Kita juga tidak mau tidak konstitusional. Jangan pula kita disangka provokator. Tapi sepanjang kita memperjuangkan kepentingan rakyat, apapun akan kita hadapi. Kita tidak akan ngeper kalau kita sudah masuk ke dalam suatu sistem. Kita mau jujur, kalau kita dibutuhkan oleh rakyat maka kita harus bisa memperjuangkan apa yang mereka rasakan, dan apa yang mereka mau. Tapi rakyat itu harus juga fair. Artinya, jangan tidak pada jalur yang sebenarnya.

Jangan seperti DPR yang sebelumnya yang tidak menguasai tugas dan fungsinya karena mereka lebih melihat kepentingan pribadi dan golongan. Kalau golongan partainya bilang harus begini maka mereka harus ikut sehingga tidak konek dengan kebutuhan rakyat. Beda dengan DPD yang free, tidak dikomandoi oleh partai manapun. Yang bisa komandoi saya ya rakyat, ‘bapak sebagai wakil kami dari Sumut, kami punya kesulitan ini ini ini.’ Setelah itu kita terima maka sudah tidak ada lagi yang komandoi kita. Itu makanya saya tidak masu masuk DPR, dari dulu, karena bagaimanapun kita dikomandoi oleh partai.

Karena itu masyarakat harus diberi pemahaman mengenai siapa pilihannya yang tepat dan dimana mereka akan memilih. Karena ada semboyan yang mengatakan, seorang pengambil keputusan atau decision maker tidak pernah salah mengambil decision atau keputusan. Kalau dia salah mengambil keputusan maka sesungguhnya inputnyalah yang salah. Dengan adanya information system atau penyebaran informasi ke daerah-daerah, calon-calon DPD ini akan diapresiasi sebab informasi itu telah pas dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sebagaimana masyarakat mengapresiasi pers, majalah-majalah, LSM dan perguruan tinggi sebab lembaga itu telah memberikan informasi yang pas buat merekat. Itulah sebabnya kita perlu membuat jaringan internet, website atau bentuk information system lainnya sehingga masyarakat tidak salah memilih. Ada comparison, perbandingan informasi si a, si b, si c yang akan mewakili mereka.

Sebagai anggota DPD nanti, konsep dan strategi apa yang akan Anda untuk membangun 25 kabupaten di Sumatera Utara?

Kalau kita wakil DPD maka kita harus menjalankan tugas dan fungsi yang diamanatkan kepada kita. Yang jelas kita harus bikin suatu sistem yang konek dengan rakyat dan menyentuh kepentingan mereka.

Kalau terpilih DPD saya akan bikin Nurdin Center atau Tampubolon Center di Medan dan di kabupaten-kabupaten. Di sana setiap informasi yang masuk kita olah, dicek kebenarannya, lalu kita bekerjasama dengan LSM, dunia pendidikan, pers segala macam untuk melihat bagaimana informasi yang masuk itu sebagai kebutuhan rakyat. Kita lalu akan buat kesimpulan, apa yang harus dilakukan.

Kita akan berbicara dan memberikan saran kepada pemerintah kabupaten, propinsi, dan pusat yang dibutuhkan rakyat sana adalah begini begini begini supaya mereka bisa hidup. Sentra-sentra itu akan kita buat informatif dan komunikatif. Harus ada informasi yang simbiosis mutualisme dari rakyat, ke kita, dan pemerintah. Itu tugas DPD: bagaimana dia bisa memperjuangkan rakyatnya, tidak ditindas atau dikorup oleh pemerintah yang korup itu.

Kepada bupati atau walikota yang korup harus segera menghentikan korupsinya supaya rakyat makan dan pembangunan berjalan. Jika DPD sudah semakin profesional dan bagus, pemerintahnya sudah tidak bisa mau ngomong apa lagi. Tapi, kita juga harus ngomong ke pemerintah agar gaji mereka mencukupi untuk makan, sekolahkan anak, dan mempunyai tabungan yang wajar untuk dana pensiunnya. Kita harus fair juga, jangan gajinya cuma bisa makan dua minggu, dua minggu lagi curi dari mana.

Jadi kita harus lihat dari semua aspek. Masyarakat harus juga bisa berproduksi dan penghasilannya bisa memenuhi kebutuhan untuk hidup dan sebagainya. Jika itu terlaksana, SDM terbaik dari luar Sumatera Utara akan datang masuk untuk ikut melaksanakan pembangunan. Dan, akumulasinya adalah terjadi pembangunan yang dahsyat di sana. Apalagi kalau agroindustri dan pariwisata ditangani paralel, on line, akan menghasilkan PAD yang sangat besar. Tidak lagi terjadi urbanisasi. Kelas-kelas orang yang mempunyai kemampuan lebih harus berada di Sumatera Utara untuk membangun.

Anda punya pemikiran untuk meningkatkan penghasilan asli daerah (PAD) di Sumatera Utara?

Konsepnya adalah, tingkatkan dahulu pendapatan masyarakat baru tarik PAD. Caranya, tumbuhkan kegiatan perekonomian dengan bantuan fasilitas pemerintah. Dari penghasilan rakyat yang meningkat kemudian tarik pajak untuk menambah PAD.

Di sisi lain, janganlah ditumbuhkan bisnis-bisnis lain yang bertentangan dengan kepentingan rakyat. Misalnya, jika di daerah itu tidak bisa berdiri industri tertentu karena dapat merusak lingkungan, mengandung penyakit dan sebagainya, janganlah hanya karena kepentingan PAD industri ini dipaksakan hidup walau rakyatnya melarat bau dan segala macam. Ini akan rusak dan mengakibatkan daerah merana. Short term, dengan adanya industri semacam itu pertumbuhan ekonomi akan tinggi tetapi semu sifatnya. Akibatnya akan lebih besar sebab rakyat akan menderita fisik dan kelestarian lingkungan hidup terganggu.

Adakah tokoh yang menjadi idola Anda?

Tokoh idola saya presiden Amerika Serikat yang sekarang, George Walker Bush. Saya melihat sistem penetrasi dia terhadap pembangunan ekonomi Amerika cukup bagus. Dia seorang pedagang. Dia menjual produk. Apapun dia lakukan untuk mengamankan business aspect yang diperlukan oleh negaranya. Terlepas dari dia melakukan invasi dan segala macam, namun di belakang itu semua adalah kepentingan jualan negaranya. Mau invasi atau apa tujuannya dagang.

Saya juga tertarik dengan kepala pemerintahan Cina yang sekarang, presiden pengganti Li Peng. Sebenarnya dia tidak mau jadi presiden. Sewaktu dilantik menjadi presiden dia mengatakan, “Saya mau menjadi presiden tapi kalian harus memberikan saya suatu keinginan untuk bisa mengorganisir organisasi saya’. Dia menangis ketika terpilih menjadi presiden. Lalu ketika ditanya oleh parlemen Cina apa yang dia perlukan untuk pembangunan Cina, jawaban dia aneh.

Dia menjawab, “Tolong berikan saya 100 peti mati. Peti mati itu akan saya gunakan untuk menggantung beberapa koruptor. Kalau saya tidak berhasil meminimize koruptor di Cina, maka, yang 99 peti itu untuk menggantung para koruptor sedangkan sisanya untuk saya satu.” Kemajuan Cina sangat pesat sekarang. Jalanan sampai ke desa-desa sudah hotmix semua, saya baru ke sana, luar biasa itu. Saya mengidolakan pemimpin seperi dia. ► haposan tampubolon

Nama:
DR. Ir. Nurdin Tampubolon

Lahir:
Siabal-abal, Pematang Siantar, Sumatera Utara, 29 Desember 1954

Istri:
Berliana br. Tobing

Anak:
Lima orang putra-putri

Orangtua:
Ayah Umar Tampubolon, Ibu Rupina Sianipar

Jumlah saudara:
Anak ketiga dari 10 bersaudara

Pendidikan:
1. Sarjana Teknik Mesin, Fakultas Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (FT-USU)
2. Menerima gelar Doktor Kehormatan dari USA, tahun 1999

Kursus:
1. Technical training dan management selama 13 bulan (1980-1981) di tokyo, Jepang
2. Management of energy resources and energy saving selama 3 (tiga) bulan di Turin, Italy, 1985
3. Management course

Pengalaman Kerja:
1. Di Sumitomo, Jepang, tahun 1980
2. Di PT Inalum, Kuala Tanjung, tahun 1981
3. Di PT Astenica, Jakarta, tahun 1982-1984
4. Kepala Seksi di Departemen Pertambangan dan Energi, Jakarta tahun 1984-1988
5. Chairman & Chief Executive Officer (CEO) Sonvaldy Group
6. Bakal Calon Gubermur/Wakil Gubernur Sumatera Utara, periode tahun 2003-2008
7. Anggota MPR RI mewakili Sumatera Utara, 2003-2004
8. Ketua Umum Dewan Presidium Pomparan Sapala Tua Tampuk Na Bolon se Indonesia
9. Ketua Umum IKTM USU (Ikatan Alumni Teknik Mesin USU) se Jabotabek

Anak Perusahaan Sonvaldy Group:
1. PT Sonvaldy Utama Permata
2. PT Aersupindo Abadi
3. PT Tomtam Hitekindo
4. Rintan PTE/LTD
5. PT Sonvaldy Agrotama
6. PT Bangkit Giat Usaha Mandiri
7. PT Bintang Sakti Lenggana

Penghargaan:
1. 1999-200, Who’s Who of The World Global Edition (Barons Who’s Who, USA)
2. 1999-2000, Who’s Who of The Asian Pacific Rim International Edition (Barons Who’s Who, USA)
3. 1998, Profile 50 Pengusaha Muda Indonesia
4. 1998, Citra Karya Pembangunan Indonesia ‘98
5. 1997-1998, Asean Development Citra Awards (Asean Programme Consultant Indonesia Consortium)

Lain-lain:
1. Profile di Harian Kompas tanggal 20 April 1998 berjudul “Nurdin Tampubolon: Sebuah Perjalanan Orang Mandiri”
2. Tulisan Sumbangan Pemikiran di Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) Medan, tanggal 7 dan 8 Desember 2000


Read More......

01 Juni 2008

Training Motivasi


Training Motivasi adalah sebuah Training yang bertujuan memberikan semangat baru didalam setiap diri pesertanya hingga mampu setidaknya mendorong mereka mencapai tujuan hidup mereka masing-masing.

Tentunya jika setiap peserta terdorong secara serentak pada situasi dan kondisi yang dibentuk didalam Training Motivasi tersebut, maka dampaknya secara TEAM juga akan signifikan. Banyak sekali jenis-jenis Training Motivasi yang berkembang saat ini di Indonesia khususnya. Namun, kami melihat bahwa untuk COST per orang yang lumayan tinggi akan memberatkan sebuah perusahaan, organisasi, kelompok atau bahkan instansi untuk mengirimkan teamnya dalam jumlah yang banyak. Itulah sebabnya kami terpanggil untuk memberikan pengalaman kami di bidang Training Motivasi ini kepada siapa saja dengan harga yang bisa dirundingkan (tentunya di bawah dari harga yang seharusnya dikeluarkan untuk jenis training yang hampir sama di luar).
Training Motivasi yang kami miliki disusun dengan menggunakan METODOLOGI yang kami dapatkan selama 3,5 tahun didalam pendidikan khusus sebagai MOTIVATOR. Kami percaya bahwa efektifitas penanaman NILAI-NILAI (VALUES) yang positif melalui sebuah Training sangat ditentukan dari "CARA PENYAMPAIAN" nya. Ternyata hasil survey membuktikan bahwa 80% Cara Penyampaian berpengaruh terhadap efektifitas penyerapan materi para peserta training. Dan Materi Training (Topic Teoritis) hanya berpengaruh 20% saja. Berdasarkan hasil survey inilah kami sangat optimis bahwa apa yang kami lakukan ini akan mendapatkan RESPON yang positif dari masyarakat Indonesia.
Berikut ini Anda bisa mempelajari beberapa Metodologi yang kami terapkan didalam pelaksanaan Training On-1 Service kami.

KENAPA MEMILIH SPESIALISASI PADA TRAINING MOTIVASI?
Kami memilih Spesialisasi kami adalah MOTIVASI bukan tanpa sebab, karena kami percaya bahwa pada dasarnya kualitas seorang Insan manusia dibentuk dari 3 bagian Penting:
KNOWLEDGE, SKILLS, dan MOTIVASI.
KNOWLEDGE sudah mulai terbentuk semenjak Insan manusia tersebut lahir ke dunia. Kita belajar sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak kita ketahui menjadi kita ketahui. Proses ini biasanya diperoleh dari Lingkungan Keluarga, Agama, dan Pendidikan Formal.
sedangkan SKILLS mulai terbentuk melalui proses ketika Insan Manusia tersebut mempertajam Pengetahuan (Knowledge)nya. Training-training sejenis itu biasanya secara khusus telah diprogram oleh perusahaan-perusahaan atau organisasi dalam usaha mengembangkan Sumber Daya Manusia mereka.
Namun, dari kenyataan di kehidupan disekeliling kita yang bisa kita lihat bahwa sekalipun Insan Manusia tersebut memiliki Pengetahuan (Knowledge) yang banyak, Skills (Ketrampilan) yang baik, kenapa masih banyak yang gagal mencapai Kesuksesan?. Jawabannya ternyata ada di "SIKAP MENTAL" atau "ATTITUDE", dan malangnya pendidikan kita tidak ada yang mengkhususkan pada point SANGAT PENTING ini. Mengubah SIKAP bukanlah hal mudah, harus disusun sebuah metodologi yang tepat melalui sebuah pelatihan, itulah yang kami namakan Training Motivasi.
Bukan terjadi secara kebetulan bila kami terpilih untuk dididik secara khusus oleh seorang GURU (MOTIVATOR ASIA PASIFIK) untuk menjadi Motivator. Kami merasa ini adalah "PANGGILAN" sebagai "ANAK BANGSA" untuk bisa membagikan Pengetahuan (Knowledge) dan Skills yang kami miliki untuk bangsa Indonesia. Untuk itulah kami memfokuskan diri didalam Pelayanan Motivasi melalui Training-training Motivasi yang unik dan menarik.

METODOLOGI TRAINING
Inilah beberapa Metodologi yang kami terapkan didalam pelaksanaan Training On-1 Service kami:
BEHAVIOUR MODIFICATION

Metodologi ini menerapkan bagaimana caranya memodifikasi perilaku yang terbentuk dari seorang manusia dengan memasukkan nilai-nilai pengganti yang diharapkan (tentunya nilai-nilai positif dan konstruktif). Nilai-nilai (Values) ini sangat variatif dan relatif sangat tergantung dari budaya didalam kumpulan team, kelopmpok, organisasi, perusahaan, atau bahkan instansi yang bersangkutan.

MUSIVATION

Metodologi ini merupakan manifestasi dan aplikasi dari Metodologi Behavoiur Modification yaitu memasukkan nilai-nilai yang diharapkan. Musivation memasukkan nilai-nilai tersebut melalui Musik dan Lagu. Musivation (Music in Motivation) sangat efektif, karena para peserta akan merasa senang, terhibur dan tanpa sadar telah memasukkan nilai-nilai positif dan konstruktif kedalam diri mereka masing-masing. Metode ini merupakan salah satu ciri khas kami, karena selain sebagai Mtivation Specialist, kami pun sangat qualified didalam mengorganize sebuah event Entertainment (pengalaman kami dibidang ini sudah lebih dari 20 tahun). Kami bahkan sudah menciptakan beberapa lagu-lagu motivasi yang selalu kami gunakan didalam setiap Training Motivasi kami.
Metodologi ini akan membuat suasana Training tidak membosankan sekalipun durasinya 40 jam nonstop.

LEARNING BY DOING

Bukan hanya sekedar permainan belaka, kami menerapkan beberapa permainan (Games) yang harus dilakukan oleh para peserta secara sendiri maupun kelompok didalam Training kami. Diharapkan dengan melakukan permainan tersebut secara langsung, setiap peserta akan lebih mengerti nilai-nilai apa yang hendak disampaikan melalui Permainan (Games) tersebut. Belajar sambil melakukan sesuatu ternyata sangat efektif, daripada hanya melulu penyampaian materi yang panjang dan kadang membosankan.

HIGH IMPACT MOTIVATION TRAINING

Kami menerapkan dua nilai PENTING didalam pelaksanaan seluruh Training Motivasi kami, yaitu: DISIPLIN dan BERTANGGUNG JAWAB. Maka didalam Tata Tertib dan Peraturan yang kami tetapkan, semua jenis Training Motivasi kami, semua peserta diharuskan disiplin dan penuh tanggung jawab. Hal ini bukan untuk merendahkan harga diri peserta Training, melainkan inilah sebuah Metodologi yang unik dari kami dengan harapan kedua nilai positif tadi bisa berdampak didalam diri setiap pesertanya setelah Training Motivasi tersebut mereka lalui.

BEBERAPA MODUL TRAINING
Ada beberapa jenis Training Motivasi yang kami miliki hingga saat ini, tentunya dengan Topik dan Tujuan yang beragam. Namun, topik masing-masing Training Motivasi tersebut sangat fleksibel untuk disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing Klien. Dalam penjelasan tentang Training yang dapat Anda lihat di bawah ini, kami hanya bisa memberikan penjelasan singkat saja. Besar harapan kami Anda bisa mengerti dan memperoleh gambaran tentang Training-training tersebut.
PERSONAL CHARACTER DEVELOPMENT PROGRAM (PCDP)

Training Motivasi ini berdurasi 8 jam, dengan maksimal peserta bisa 200 orang (layout ruangan bisa theater style). Tujuan PCDP secara UMUM adalah untuk memberikan pengertian tentang PERSEPSI / PARADIGMA yang sangat menentukan Kesuksesan seseorang. Juga dijabarkan tentang pentingnya Karakter didalam mendukung Kesuksesan kehidupan masing-masing peserta.
Training PCDP ini sangat cocok sebagai Training Motivasi didalam Kelompok, Team Kerja, Perusahaan Organisasi bahkan Instansi.

SEMINAR OLAH POTENSI (SOP) part I, II, dan III

Training Motivasi ini berdurasi 12 jam, dengan maksimal peserta 60 orang (layout ruangan harus U-Sit). SOP terdiri dari 3 part dengan Tujuan yang berbeda. Tujuan SOP secara UMUM adalah untuk memberikan pengertian tentang HUKUM-HUKUM Kesuksesan yang harus diketahui dan diterapkan untuk bisa SUKSES. SOP sangat cocok untuk memotivasi Team Kerja didalam mencapai TARGET yang ditetapkan oleh Team.
Materi Training SOP ini bisa dikolaborasikan dengan Materi dari Kelompok, Team Kerja, Perusahaan Organisasi bahkan Instansi.

COMFORT ZONE TRAINING (CZT)

Training Motivasi ini berdurasi 6 - 8 jam, dengan maksimal peserta bisa untuk 100 orang (layout ruangan bisa U-Sit atau Theater Style). Tujuan CZT secara UMUM adalah untuk memberikan pengertian tentang ZONA KENYAMANAN yang sangat mempengaruhi Prestasi seorang Insan didalam kehidupannya. Didalam CZT, para peserta akan diberikan penjelasan bagaimana menyikapi Zona Kenyamanan nya masing-masing, serta SOLUSI nya.
Training CZT ini sangat cocok dan sesuai untuk Team Kerja, Kelompok, Organisasi, Perusahaan, atu Instansi yang sebelumnya sudah mengikuti PCDP.

SEKILAS TENTANG KAMI

Kami adalah sebuah wadah Pelayanan Motivasi yang independen dan merupakan manifestasi dari Misi Pribadi kami untuk melayani siapa saja yang berkeinginan sungguh-sungguh untuk menggali POTENSI DIRI mereka secara utuh.

Misi kami adalah: Memberikan suatu kesempatan kepada siapa saja tanpa memandang usia, ras, agama, pendidikan, serta golongan, untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusianya menjadi lebih positif dan konstruktif melalui metode TRAINING yang dilandasi dengan semangat PERSATUAN, menuju KEDAMAIAN dengan dasar CINTA.

Misi yang kami emban ini terinspirasi dari sebuah VISI ke depan yang ingin kami persembahkan untuk Bangsa dan Negara INDONESIA tercinta ini.
Visi kami adalah: Menjadi Pusat Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui MODUL TRAINING Knowledge, Skills, dan Motivasi yang mengkolaborasikan metodologi training yang interaktif dan menarik serta unik, berteknologi multi media serta musik motivasi (MUSIVATION) se INDONESIA pada tahun 2020.


Berdasarkan Misi dan Visi tersebut di ataslah kami siap melayani siapa saja bukan berdasarkan Profit Oriented (Bertujuan Keuntungan semata) saja. Dasar pelayanan kami adalah Mision Oriented (Bertujuan Misi) untuk membangun Sumber Daya Manusia INDONESIA yang memang sangat diperlukan pada saat ini.

NAMA TEAM :
ALAMAT :
REKENING BANK :
TELEPON :
WEBSITE :
EMAIL ADDRESS :

Team Kerja :


MOTIVATOR/ OWNER :
TECHNOLOGY CREATOR :
ON-1SERVICE TEAM


Kami juga telah memiliki beberapa rekan yang kami percayakan sebagai Training Organizer di beberapa daerah di Indonesia.

Sekarang Anda berada dihalaman FAQ (Frequently Asked Questions)


Berikut ini adalah beberapa Pertanyaan yang sering muncul sehubungan dengan Training Service berikut jawaban yang bisa kami jawab. Selamat mempelajarinya ....
A. TENTANG TRAINING MOTIVASI

Apa manfaat yang bisa dirasakan setelah mengikuti Training Motivasi ini bagi Diri sendiri, Team, kelompok, Perusahaan atau Instansi?
Manfaat yang dirasakan oleh setiap peserta Training Motivasi adalah; setiap Individu akan bisa menerapkan "MOTIVASI DIRI" (Self Motivation) secara kontinu didalam kehidupannya serta menjadi AGEN PERUBAHAN (Agent Of Change). Tentunya di kehidupan keluarga dan pekerjaan. Apabila hal tersebut bisa dikondisikan secara bersamaan didalam sebuah "TEAM", maka bisa dipastikan bahwa "Suasana" Motivasinya akan semakin optimal.


Apakah dengan mengikuti Training Motivasi , setiap Individu bisa langsung SUKSES?

Training Motivasi manapun bukanlah sebuah "MESIN PENCETAK MANUSIA SUPER INSTAN", artinya tidaklah mungkin dengan hanya mengikuti sekali Training Motivasi seseorang tersebut langsung bisa langsung termotivasi dan SUKSES. Kita semua tahu bahwa KESUKSESAN juga tidak ada yang INSTAN, dan Kami percaya bahwa KESUKSESAN adalah sebuah "PROSES PERJALANAN ". Tentunya Perjalanan Kehidupan yang mempunyai ARAH dan TUJUAN yang JELAS. Justru karena itulah kami percaya bahwa melalui Training Motivasi, manusia akan lebih berani untuk menentukan arah dan tujuan yang jelas. Namun malangnya banyak manusia berjalan tetapi tidak ada ARAH dan TUJUAN yang jelas. Pertanyaannya? Kenapa mereka tidak ada ARAH dan TUJUAN yang Jelas?, semuanya dikarenakan oleh SIKAP MEREKA (Cara mereka dalam memandang sesuatu). Pelatihan pembinaan Sikap inilah sebenarnya INTI dari Training Motivasi kami.
Justru karena melihat kenyataan itulah, kami ingin menjadi bagian dari PROSES PERJALANAN KEHIDUPAN mereka. Kami percaya bahwa Training Motivasi kami dapat menjadi "MOMENTUM" bagi setiap Individu untuk menentukan ARAH dan TUJUAN "PERJALANAN KEHIDUPAN" mereka menuju KESUKSESAN.

Siapa saja sebenarnya yang membutuhkan Training Motivasi?


Pada dasarnya manusia terdiri dari 3 (tiga) fase yang sangat menentukan Kesuksesannya didalam Kehidupannya masing-masing:
1. KNOWLEDGE (Pengetahuan)
Artinya; ketika manusia itu lahir dia harus melalui proses pembelajaran, dimana dia akan mulai mengetahui apa yang belum dia ketahui. Bisa kita lihat fase ini didalam pendidikan, manusia mulai menambah pengetahuan (knowledge)nya. Umumnya masyarakat Indonesia cenderung mengejar titel yg tinggi lewat pendidikan. Namun, itu masih belum cukup
2. SKILLS (Keahlian)
Ternyata di dunia lapangan kerja, bukan hanya pengetahuan yang dicari, keahlian seseorang juga dibutuhkan. Maka, hanya orang2 yang mempunyai keahlian lebih lah yang akan mendapatkan peluang lebih besar untuk berkarir. Namun, masih ada juga orang yg sudah memiliki Knowledge, Skills tetapi masih belum SUKSES... Nah, ini dia kuncinya...
3. MOTIVATION (Motivasi)
Ini fase yang harusnya menjadi perhatian serius, yaitu Motivasi. Kenapa?... sekalipun manusia tersebut tidak memiliki pengetahuan yang memadai dan keahlian yang cukup, namun dia bisa SUKSES...karena dia memiliki Motivasi yang KUAT.
Nah.. malangnya pendidikan tentang Motivasi tersebut belum ada di sistem pendidikan kita. Itulah sebabnya Training Motivasi sangat diperlukan sebagai suatu cara memberikan pendidikan Motivasi kepada siapa saja yang benar2 ingin mencapai Kesuksesan tanpa memandang Pendidikan dan Keahlian. Bukankah melalui penjelasan ini artinya semua orang membutuhkan Training Motivasi?...Anda bagaimana? (Jawabannya ada di hati Anda).

Musik Motivasi yang diterapkan didalam Training Motivasi ini apakah tidak mengarah ke suatu kelompok kepercayaan tertentu?

Ini pertanyaan yang sangat bagus... Terus terang saja, kami tidak membawa misi atau kepentingan-kepentingan tertentu didalam melayani Training Motivasi ini. Musik Motivasi (Musivation) adalah sebuah "Metodologi Penyampaian" yang sudah sangat berkembang dewasa ini. Bahkan dibeberapa agama/ kepercayaan di Indonesia khususnya juga sudah menggunakan metode ini. Jadi, sekali lagi kami sampaikan bahwa karena kami terpanggil sebagai anak bangsa yang mempunyai Visi dan Misi membangkitkan potensi anak bangsa Indonesia, maka TUJUAN WADAH ini murni semata-mata untuk kepentingan semua orang tanpa melihat perbedaan.

Berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah Organisasi, Kelompok, Instansi, Team Kerja, atau Perusahaan jika mau menggunakan Jasa Training Motivasi On-1 Services?

Jika Anda sudah membaca dan mempelajari kami pada halaman Profile , pasti disana sudah dijelaskan bahwa wadah kami ini bergerak bukan berdasarkan "PROFIT ORIENTED" (Keuntungan Bisnis Semata), kami bergerak berdasarkan "MISSION ORIENTED" (Berdasarkan Misi yang jelas, yaitu membantu orang lain). Oleh karena itu didalam menetapkan biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah Organisasi, Kelompok, Instansi, Team Kerja, atau Perusahaan, kami sangat fleksibel dan negotiable (bisa dinegosiasikan). Yang Pasti, biayanya dibawah yang semestinya harus dikeluarkan jika mengikuti Training Motivasi lain yang mungkin memang dikelola secara profesional dan Profitable.
Bukannya kami mengatakan bahwa kami tidak profesional, bahkan melalui proses sebenarnya kami telah membuktikannya tingkat profesionalisme kami dibandingkan dengan provider yang lain.

Apakah hanya melayani Training Motivasi saja?... Apakah tidak melayani Training tentang Marketing, Manajemen ..dll?

On-1 Services sebenarnya bisa saja menyesuaikan jenis Training yang diinginkan oleh Klien, namun metode penyampaian kami tetap menyelipkan nuansa Motivasi. Karena menurut kami percuma saja jika Training Skills diberikan tanpa menggunakan Metode yang menarik... Materi mungkin saja bagus, tetapi metodenya membosankan.

Bagaimana caranya bisa memperoleh keterangan lengkap tentang wadah Services ini secara tertulis?

Website kami ini telah kami lengkapi dengan fasilitas Download File, Anda yang ingin memperoleh Profile Services secara tertulis bisa mendownloadnya disana. File tersebut dalam format PDF yang bisa Anda buka dengan Adobe Acrobat, serta bisa langsung diprint. Selamat memilikinya.

Apakah jumlah peserta Training Motivasi ini ditentukan? atau malah tidak terbatas? Berapa jumlah minimal yang dianjurkan?

Training Motivasi berbeda dengan Training Skills yang bisa diberikan walau jumlah pesertanya sedikit sekali (di bawah 10 orang). Training Motivasi On-1 Services membangkitkan Antuasiasme Peserta, sehingga jumlah peserta diharapkan harus di atas 30 orang (untuk semua jenis Training). Sedangkan batas maksimalnya, setiap Training berbeda... ada yang maksimal 150 orang (untuk Training PCDP), ada yang maksimal 70 orang (untuk LCCE). Lebih detailnya bisa Anda lihat di halaman Training.

B. TENTANG TRAINING ORGANIZER ON-1 SERVICES
Bagaimana caranya bisa menjadi TO (Training Organizer ) Services?

Untuk menjadi TO (Training Organizer) / Pelaksana Training Services, setiap calon harus mendapatkan persetujuan dari Owner On-1 Services (Onnysimus RPJ Ulahayanan). Setiap TO minimal sudah pernah mengikuti Training On-1 Services atau telah mengerti apa-apa yang harus dipersiapkan didalam melaksanakan Training Motivasi On-1 Services.

Apa saja tugas seorang TO (Training Organizer ) Services?

Tugas seorang TO (Training Organizer) adalah: mempersiapkan segala sesuatu yang meliputi:
1. Ruangan Training dan Property (Perlengkapan) Training
2. Materi/ Handout Peserta Training
3. Fee & Akomodasi Motivator On-1 Services & Team
4. Dll

Apa saja keuntungan menjadi seorang TO (Training Organizer ) Services?

Karena seorang TO (Training Organizer) mempunyai hubungan langsung dengan Motivator Services, maka dari harga negosiasi antara TO dengan Motivator inilah yang selanjutnya menjadi patokan seorang TO untuk memperoleh Keuntungan. Keuntungan lainnya yang bisa diperoleh dari Pelaksanaan Training Motivasi ini adalah "Jaringan / Networking" sahabat, yang memungkinkan terbukanya peluang ke arah bisnis lainnya.

Read More......

23 Mei 2008

Penyebab Utama Kegagalan

1. Latar Belakang keturunan yang tidak menguntungkan. Faktor ini hanya sedikit, sangat sedikit. Biasanya sesuatu yang memang tidak dapat diubah, seperti cacat. Tapi kita bisa mengubah kecacatan itu menjadi keuntungan.

Alasan ini menjadi satu-satunya dari yang lain (nantinya) yang sulit untuk diubah.
2. Tujuan Hidup yang tidak ditetapkan dengan baik. Tidak ada harapan sukses bagi orang yang tidak memeiliki tujuan sentral atau sasaran pasti untuk dicapai. Kata Napoleon Hill, 98 dari 100 orang yang gagal tidak memiliki tujuan hidup yang jelas.
3. Kurang ambisi untuk mencapai sasaran di atas rata-rata. Tak perlu menawarkan harapan kepada orang yang tidak punya semangat dan cuek, serta bersikap masa bodoh. Atau orang yang tidak mau membayar untuk kesuksesannya.
4. Pendidikan yang tidak cukup. Kelemahan ini bisa diatasi dengan cukup mudah. Pendidikan tidak berarti sekolah. Yang berbahaya adalah, anda berhenti belajar dan mencari pendidikan sesaat setelah berhenti dari sekolah.
5. Kurang disiplin pribadi. Disiplin datang dari pengendalian diri. Ini berarti harus menguasai dan mengurangi kualitas negatif dalam diri. Kalau Anda tidak bisa menaklukan diri, Anda akan ditaklukan diri Anda.
6. Kesehatan yang buruk. Tidak ada orang yang bisa menikmati kesuksesan yang menonjol dengan kondisi kesehatan yang tidak baik. Hal ini terjadi karena kurangnya pengendalian diri. Hal itu terutama dikarenakan:
- terlalu banyak makan makanan yang merugikan
- kebiasaan pemikiran yang salah. Hal ini mengundang persepsi negatif terhadap diri sendiri
- terlalu banyak memanjakan diri dan melakukan penyimpangan tindakan seksual
- kurang latihan olahraga
- kurang persediaan udara segar
7. Pengaruh lingkungan yang tidak menyenangkan dimasa kanak-kanak. Para pembaca mungkin penah mendengar pepatah, jika pohonnnya condong, dahannya pasti menekuk. Atau pepatah lain, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kebanyakan orang yang menjadi penjahat biasanya mendapat pengaruh yang jelek dari masa kanak-kanaknya.
8. Suka menunda-nunda. Ini adalah penyebab kegagalan yang paling lazim terjadi. Kebiasaan menunda-nunda membayangi setiap manusia, menunggu peluang untuk merusak peluang seseorang untuk meraih kesuksesan. Kebanyakan dari kita hidup sebagai orang gagal karena kita menunggu ’saat yang tepat untuk melakukan sesuatu’, kita menunggu ’ saat melakukan hal yang benar’, untuk memulai sesuatu yang berharga. Jangan menunggu, tidak pernah ada ’saat yang tepat’ untuk berbuat sesuatu. Mulailah sekarang juga, dan bekerjalah dengan alat apa saja yang sekarang sudah Anda miliki. Alat yang lebih baik akan ditemukan sambil jalan.
9. Kurangnya ketekunan; kabanyakan dari kita biasanya mampu dengan baik melakukan sesuatu diawal-awal, tapi tidak mampu menyelesaikan apa yang telah kita mulai. Lebih buruk lagi, orang biasanya menyerah saat tanda-tanda kekalahan pertama terlihat. Tidak ada ’pemain pengganti’ untuk ketekunan. Jika ketekunan hilang, sukses turut serta pergi bersamanya.
10. kepribadian negatif. Tidak ada harapan sukses bagi siapa saja yang menjauhkan orang lain karena kepribadian negatif yang dikembangkannya sendiri. Sukses datang melalui penerapan kekuasaaan, dan kekuasaan datang melalui kerjasama dengan orang lain. Kepribadian negatif tidak bisa menarik kerjasama.
11. Energi seksual adalah yang terkuat di antara semua rangsangan yang menggerakkan anda untuk bertindak. Karena merupakan emosi yang paling kuat, dorongan seksual yang harus dikendalikan melalui transmutasi dan diubah menjadi dorongan melalui saluran yang lain.
12. Keinginan tak terkendali untuk mendapat sesuatu tanpa mau mengorbankan apapun. Insting berjudi mendorong jutaan orang menuju kegagalan.
13. Gagal mengambil keputusan yang pasti. Orang yang sukses menggapai keputusan dengan seketika, dan mengubahnya—jika memang harus mengubahnya—dengan perlahan-lahan. Orang yang gagal biasanya mengambil keputusan—jika memang harus mencapainya–dengan lambat, dan mengubahnya dengan cepat dan sering. Kebimbangan dan kebiasaan menunda-nunda merupakan saudara kembar. Kalau yang satu ditemukan, yang lain juga berada tidak jauh dari situ. Bunuhlah pasangan ini, sebelum mereka membelenggu Anda di pusaran kegagalan.
14. Memeliihara Satu atau lebih dari enam ketakutan dasar. Rasa takut ini harus dikuasai sebelum Anda beranjak maju menuju kesuksesan. ( 1. akan kemiskinan 2. akan kritik 3. akan kesehatan yang buruk 4. kan kehilangan cinta 5. akan usia tua 6. akan kematian).
15. Pilihan teman hidup yang keliru. Ini juga penyebab umum untuk kegagalan. Hubungan perkawinan mendatangkan kontak yang sangat intim jika hubungan ini serasi. Tetapi biasanya yang sering terjadi adalah kesengsaraan. Hal ini merupakan bentuk kegagalan yang ditandai oleh kesengsaraan dan ketidakbahagiaan dan menghancurkan semua ambisi. Apa hubungan pasangan hidup dengan kesuksesan? Dukungan tim, itu jawabannya.
16. Terlalu berhati-hati. Orang yang tidak berani mengambil resiko, biasanya hanya akan mendapatkan sisa-sisa setelah semua orang selesai memilih. Terlalu berhati-hati sama buruknya dengan kurang berhati-hati. Keduanya merupakan keadaan ekstrim yang harus dihindari. Kehidupan ini sendiri penuh dengan unsur resiko.
17. Pilihan rekan bisnis yang keliru. Ini adalah selah satu penyebab kegagalan yang lazim dalam berbisnis. Kita akan meniru mereka yang berhubungan dekat dengan kita.
18. Percaya kepada Takhayul dan Berprasangka. Percaya kepada takhayul merupakan bentuk dari rasa takut. Itu juga merupakan bentuk dari kebodohan. Orang yang sukses tetap membuka pikirannya dan tidak takut kepada apapun. Takhayul di sini bukan hanya berarti cerita-cerita menyeramkan atau hantu, atau cerita yang tidak masuk akal. Takhayul lebih berarti anggapan-anggapan umum yang belum terbukti kebenarannya, orang yang tidak sekolah tinggi tidak bisa menjadi kaya, misalnya.
19. Pilihan kejuruan yang keliru. Tidak ada orang yang bisa sukses karena melakukan sesuatu yang tidak disukai. Langkah yang paling penting jika anda ingin sukses adalah memilih bidang pekerjaan yang akan Anda tekuni dengan sepenuh hati.
20. Kurangnya konsentrasi terhadap usaha. Orang yang serba bisa biasanya tidak bisa menguasai sesuatu dengan baik. Pusatkanlah seluruh potensi dan fokus anda pada satu tujuan utama yang pasti.
21. Kebiasaan terlalu boros. Orang yang terlalu boros tidak bisa sukses. Terutama karena dia selalu takut kepada kemiskinan. Bentuklah kebiasaan menabung secara sistematis dengan menyisihkan suatu persentase dari pendapatan anda, bukan dari sisa uang belanja anda. Simpanan uang memberi anda landasan untuk melakukan tawar menawar. Tanpa uang, oarng terpaksa menerima apapun yang ditawarkan orang lain kepadanya, dan gembira menerima jumlah yang sangat sedikit itu. Karena memang tidak ada pilihan lain.
22. Kurang antusias. Kurang antusisme atau gairah kerja membuat penampilan orang tidak meyakinkan. Lebih-lebih, gairah kerja adalah sesuatu yang menular, dan orang yang memilikinya dan mampu mengontrolnya biasanya disukai orang banyak.
23. Tidak punya tenggang rasa. Orang yang pikirannya tertutup biasanya kurang bisa maju. Tidak memiliki tenggang rasa atau toleransi berarti bahwa orang berhenti memperoleh pengetahuan.
24. Tidak sederhana. Bentuk yang paling merusak dari sikap tidak bersahaja atau ketidaksederhanaan biasanya berhubungan dengan makanan, minuman, dan hubungan seksual. Terlalu memanjakan diri dalam salah satu atau semua hal di atas akan mengakibatkan hasil yang fatal.
25. Ketidakmampuan bekerja sama dengan orang lain. Lebih banyak orang kehilangan kedudukan dan kesempatan yang lebih besar dalam hidup karena hal ini. Ini kesalahan yang tidak akan ditoleransi oleh usahawan atau pemimpin manapun.
26. Pemilikan kekuasaan tidak dari hasil sendiri. Kekuasaan di tangan seseorang yang memperolehnya tidak dengan cara berangsur-angsur kerap mengakibatkan hal fatal dalam sukses. Kekayaan yang datang terlalu cepat lebih berbahaya dari kemiskinan.
27. Ketidakjujuran dengan sengaja. Tidak ada pengganti untuk kejujuran. Orang mungkin untuk sementara melakukan ketidakjujuran karena dipaksa oleh sistem, hal ini bisa jadi tidak merusak dirinya secara permanen. Tetapi tidak ada harapan bagi orang yang tidak jujur karena pilihannya sendiri. Cepat atau lambat perbuatannya akan merugikan diri sendiri, dia akan kehilangan reputasi dan bisa jadi harus membayar dengan kebebasannya.
28. Mementingkan diri sendiri dan sombong. Kedua kualitas ini adalah lampu merah bagi orang lain untuk mendekat. Keduanya sangat fatal dalam kesuksesan.
29. Menduga dan bukan berpikir. Kebanyakan orang terlalu malas atau terlalu bodoh untuk memperolah fakta yang harus digunakan sebagai landasan untuk berpikir secara akurat. Mereka memilih bertindah berdasar ’opini’ yang tercipta melalui dugaan atau pemikiran sepintas lalu.
30. Kurang modal. Ini penyebab yang paling umum dari kegagalan bagi orang yang memulai bisnis untuk pertama kalinya. Mereka tidak punya cadangan modal untuk mengatasi kerugian atau kesalah kecil dalam bisnisnya, dan untuk terus bertahan sampai membentuk reputasi.
31. Lainnya. Sebutkan satu kegagalan yang anda alami atau anda tahu yang mungkin belum tercantum dalam 30 daftar penyebab utama kegagalan di atas.


Ada tiga hal yang harus diatasi sebelum anda dapat menggapai sukses. Ketiga hal tersebut adalah ketidakpasatian, keraguan, dan rasa takut. Anggota tiga sekawan yang jahat ini saling berhubungan dengan erat; kalau satu ditemukan, dua yang lain tidak jauh dari sana.
Ketidakpastian adalah benih dari rasa takut. Juga harus dipahami adalah rasa hanya merupakan keadaan pikiran belaka.
Ada 6 ketakutan mendasar manusia dengan kombinasi yang berbeda-beda (mungkin juga sama) bagi tiap orang. Jika disusun berdasarkan kekerapan kemunculannya, keenam ketakutan itu adalah:
1. takut akan kemiskinan
2. takut akan kritik
3. takut akan kesehatan yang buruk.
4. takut akan kehilangan cinta
5. takut akan usia tua
6. takut akan kematian
Tiga rasa takut yang pertama (kemiskinan, kritik, dan kesehatan yang buruk) berada paling dasar dari seluruh kekhawatiran manusia.

*dari buku Think and Grow Rich, Napoleon Hill

Read More......

04 Maret 2008

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

PENDAHULUAN

Salah satu sumber daya yang penting dalam manajemen adalah sumber daya manusia atau human resources. Pentingnya sumber daya manusia ini, perlu disadari oleh semua tingkatan manajemen. Bagaimanapun majunya teknologi saat ini, namun faktor manusia tetap memegang peranan penting bagi keberhasilan suatu organisasi. Menurut Buchari Zainun (2001, hal. 17), manajemen sumber daya manusia merupakan bagian yang penting, bahkan dapat dikatakan bahwa manajemen itu pada hakikatnya adalah manajemen sumber daya manusia atau manajemen sumber daya manusia adalah identik dengan manajemen itu sendiri.


PENGERTIAN

Beberapa pengertian tentang manajemen sumber daya manusia, antara lain :

§ Manajemen sumber daya manusia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan kegiatan-kegiatan, pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai berbagai tujuan individu, organisasi, dan masyarakat. (Flipo, 1989)

§ Manajemen sumber daya manusia adalah sebagai penarikan, seleksi, pengembangan, penggunaan dan pemeliharaan sumber daya manusia oleh organisasi. (French dalam Soekidjo, 1991)

Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan proses pendayagunaan manusia atau pegawai yang mencakup; penerimaan, penggunaan, pengembangan dan pemeliharaan sumber daya manusia yang ada.

KONSEPS TENTANG SDM

Perubahan konsepsi tentang sumber daya manusia atau pandangan terhadap pekerja dalam kerangka hubungan kerja pada organisasi.

  1. Pekerja dianggap sebagai Barang Dagangan.

Sekitar pertengahan abad ke 19 berkembang anggapan bahwa manusia kerja atau pekerja dianggap sebagai barang dagangan. Pekerja diperlakukan sebagai salah satu faktor produksi yang dapat diperjualbelikan untuk dijadikan alat produksi. Anggapan ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain pekerja tidak mungkin menjual daya atau tenaganya. Bahkan dalam pemanfaatan SDM ini, pekerja harus tunduk kepada beberapa hal yang ada diluar dirinya, seperti disiplin dan kekuasaan majikannya, pegawai lain, penggunaan dan pengembangan pegawai, yang diarahkan untuk tercapainya tujuan organisasi.

  1. Pekerja dianggap sebagai SDM.

Adanya anggapan bahwa sering terjadinya pemborosan dalam pemanfaatan sumber daya manusia atau pekerja. Keadaan ini berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dari organisasi, dan juga penghasilan pekerja itu sendiri. Selain pemborosan, juga faktor-faktor yang berkaitan dengan kelalaian pekerja, misalnya terjadi kecelakaan serta biaya pengembangan kemampuan atau kompensasi SDM. Semuanya merupakan biaya yang harus diperhitungan dalam menghitung biaya produksi. Biaya tersebut sering disebut sebagai biaya sosial yang harus ditanggung bersama-sama oleh pihak-pihak yang bersangkutan, seperti masyarakat, pemilik usaha dan pekerja sendiri. Biaya sosial ini kadang-kadang dapat melebihi biaya produksi.

  1. Pekerja dianggap sebagai Mesin.

Pada akhir abad 19 dan permulaan abad ke-20, dengan munculnya konsep manajemen ilmiah (Scientific Management), antara lain proses manajemen lebih mengutamakan produktivitas pekerja. Manajemen mengutamakan pada pengukuran kerja dan kualitas kerja, analisa pekerjaan sampai kepada hal-hal yang sangat detail dalam pekerjaan. Pada situasi ini, pimpinan menempatkan pekerja tak ubahnya sebagai mesin, karena pekerjaan yang bersifat rutin, dan pekerjaan rutin pada prinsipnya dapat dikerjakan oleh mesin. Konsepsi SDM yang demikian tidak ubahnya menganggap bahwa pekerja itu sama dengan barang dagangan. Karena SDM dianggap seperti mesin, maka penggunaan pekerja tersebut diusahakan sama seperti mesin dengan mengutamakan produktivitasnya tanpa memandang segi-segi kemanusiaan seperti; pikiran, perasaan, dan tata nilai manusia lainnya.

  1. Pekerja dianggap sebagai Manusia.

Sebagai reaksi terhadap pandangan yang menganggap dan memperlakukan manusia kerja sebagai mesin atau alat yang tidak manusiawi, maka muncul pandangan yang cenderung kadang-kadang terlalu manusiawi. Teori Y dari McGregor mempunyai relevansi tinggi dengan pandangan yang berwatak manusiawi. Dalam hal tertentu pandangan ini memang dapat berhasil yaitu bilamana kualifikasi pekerjanya sudah cukup tinggi, namun akan gagal bilamana manusianya dipandang dan diperlakukan secara manusiawi itu tanpa kendali sama sekali. Selanjutnya muncul gerakan hubungan manusia (human relations movement) yang dipelopori oleh Elton Mayo, Dickton dan sebagainya. Kelompok ini memandang bahwa dalam manajemen tidak semata-mata berdasar atas rasa kemanusiaan saja, tetapi secara ilmiah dapat dilakukan observasi terhadap pekerja. Selain itu pekerja mempunyai sistem saraf dan alat perasa lainnya sebagaimana manusia lainnya, dan juga ingin menempati kedudukan sosial yang layak dalam masyarakat. Pada tahapan ini, pandangan terhadap pekerja pada dasarnya ingin memanusiakan manusia pekerja, dan disarankan suapaya pekerja diperlakukan yang wajar dan manusiawi, dengan lebih memperhatikan perasaan-perasaan manusianya.

  1. Pekerja dianggap sebagai Partner

Sebagai kelanjutan konsepsi tentang pekerja yang harus dimanusiakan, kemudian berkembang konsep partnership. Konsepsi ini pada prinsipnya ingin menjembatani perbedaan atau pertentangan antara pemilik usaha dengan pekerjanya. Disini ditekankan bahwa pemilik usaha tidak mungkin menjalankan sendiri usahanya tanpa bantuan orang lain atau pekerja, demikian pula sebaliknya pekerja tidak bisa melakukan kegiatan atau pekerjaan bilamana tidak ada pemilik usaha. Untuk itu perlu adanya kerjasama yang merupakan suatu sistem yang bermanfaat untuk terjadinya partnership. Konsep partnership ini dikembangkan oleh Ouchi dengan Teori Z yang saat ini banyak diterapkan pada manajemen Jepang. Secara mendasar konsep ini ingin menerapkan, bahwa pekerja supaya tidak tunduk sepenuhnya kepada kekuasaan manajemen yang absolut, akan tetapi memandang pekerja sebagai bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari manajemen itu sendiri. Pekerja mempunyai hak yang sama untuk berperan aktif dalam mencapai tujuan organisasi, seperti halnya kelompok ahli dan kelompok manajemen lain terlibat dalam pengambilan keputusan dan menentukan kebijaksanaan penting organisasi. Karena itu konsep partnership ini sering juga dinamakan ko-determinasi (co-determinas).

PROSES MANAJEMEN SDM

Proses manajemen sumber daya manusia yang akan dibahas, sebagaimana disampaikan oleh Pigors dan Myers (1961) yaitu menekankan pada; recruitment (pengadaan), maintenance (pemeliharaan) dan development (pengembangan).

  1. Pengadaan Sumber Daya Manusia

Recruitment disini diartikan pengadaan, yaitu suatu proses kegiatan mengisi formasi yang lowong, mulai dari perencanaan, pengumuman, pelamaran, penyaringan sampai dengan pengangkatan dan penempatan. Pengadaan yang dimaksud disini lebih luas maknanya, karena pengadaan dapat merupakan salah satu upaya dari pemanfaatan. Jadi pengadaan disini adalah upaya penemuan calon dari dalam organisasi maupun dari luar untuk mengisi jabatan yang memerlukan SDM yang berkualitas. Jadi bisa berupa recruitment from outside dan recruitment from within.

Recruitment from within merupakan bagian dari upaya pemanfatan SDM yang sudah ada, antara lain melalui pemindahan dengan promosi atau tanpa promosi. Untuk pengadaan pekerja dari luar tahapan seleksi memegang peran penting. Seleksi yang dianjurkan bersifat terbuka (open competition) yang didasarkan kepada standar dan mutu yang sifatnya dapat diukur (measurable). Pada seleksi pekerja baru maupun perpindahan baik promosi dan tanpa promosi, harus memperhatikan unsur-unsur antara lain; kemampuan, kompetensi, kecakapan, pengetahuan, keterampilan, sikap dan kepribadian.

Tahapan pemanfaatan SDM ini sangat memegang peranan penting, dan merupakan tugas utama dari seorang pimpinan. Suatu hal yang penting disini adalah memanfaatkan SDM atau pekerja secara efisien, atau pemanfaatan SDM secara optimal, artinya pekerja dimanfaatkan sebesar-besarnya namun dengan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan batas-batas kemungkinan pemanfaatan yang wajar. Orang tidak merasa diperas karena secara wajar pula orang tersebut menikmati kemanfaatannya.

Prinsip pemanfaatan SDM yang terbaik adalah prinsip satisfaction yaitu tingkat kepuasan yang dirasakan sendiri oleh pekerja yang menjadi pendorong untuk berprestasi lebih tinggi, sehingga makin bermanfaat bagi organisasi dan pihak-pihak lain. Pemanfaatan SDM dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yang paling mudah dan sederhana sampai cara yang paling canggih. Pemanfaatan SDM perlu dimulai dari tahap pengadaan, dengan prinsip the right man on the right job.

  1. Pemeliharaan Sumber Daya Manusia

Pemeliharaan atau maintenance merupakan tanggung jawab setiap pimpinan. Pemeliharaan SDM yang disertai dengan ganjaran (reward system) akan berpengaruh terhadap jalannya organisasi. Tujuan utama dari pemeliharaan adalah untuk membuat orang yang ada dalam organisasi betah dan bertahan, serta dapat berperan secara optimal. Sumber daya manusia yang tidak terpelihara dan merasa tidak memperoleh ganjaran atau imbalan yang wajar, dapat mendorong pekerja tersebut keluar dari organisasi atau bekerja tidak optimal.

Pemeliharaan SDM pada dasarnya untuk memperhatikan dan mempertimbangkan secara seksama hakikat manusianya. Manusia memiliki persamaan disamping perbedaan, manusia mempunyai kepribadian, mempunyai rasa, karya, karsa dan cipta. Manusia mempunyai kepentingan, kebutuhan, keinginan, kehendak dan kemampuan, dan manusia juga mempunyai harga diri. Hal-hal tersebut di atas harus menjadi perhatian pimpinan dalam manajemen SDM. Pemeliharaan SDM perlu diimbangi dengan sistem ganjaran (reward system), baik yang berupa finansial, seperti gaji, tunjangan, maupun yang bersifat material seperti; fasilitas kendaraan, perubahan, pengobatan, dll dan juga berupa immaterial seperti ; kesempatan untuk pendidikan dan pelatihan, dan lain-lain. Pemeliharaan dengan sistem ganjaran ini diharapkan dapat membawa pengaruh terhadap tingkat prestasi dan produktitas kerja.

3. Pengembangan Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia yang ada didalam suatu organisasi perlu pengembangan sampai pada taraf tertentu sesuai dengan perkembangan organisasi. Apabila organisasi ingin berkembang seyogyanya diikuti oleh pengembangan sumber daya manusia. Pengembangan sumber daya manusia ini dapat dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan.

Pendidikan dan pelatihan merupakan upaya untuk pengembangaan SDM, terutama untuk pengembangan kemampuan intelektual dan kepribadian. Pendidikan pada umumnya berkaitan dengan mempersiapkan calon tenaga yang digunakan oleh suatu organisasi, sedangkan pelatihan lebih berkaitan dengan peningkatan kemampuan atau keterampilan pekerja yang sudah menduduki suatu jabatan atau tugas tertentu.

Untuk pendidikan dan pelatihan ini, langkah awalnya perlu dilakukan analisis kebutuhan atau need assessment, yang menyangkut tiga aspek, yaitu : (1) analisis organisasi, untuk menjawab pertanyaan : "Bagaimana organisasi melakukan pelatihan bagi pekerjanya", (2) analisis pekerjaan, dengan pertanyaan : " Apa yang harus diajarkan atau dilatihkan agar pekerja mampu melaksanakan tugas atau pekerjaannya" dan (3) analisis pribadi, menekankan "Siapa membutuhkan pendidikan dan pelatihan apa". Hasil analisis ketiga aspek tersebut dapat memberikan gambaran tingkat kemampuan atau kinerja pegawai yang ada di organisasi tersebut.

Kinerja atau performance dipengaruhi oleh beberapa faktor yang disingkat "ACIEVE" yaitu : ability (kemampuan pembawaan), capacity (kemampuan yang dapat dikembangkan), incentive (insentif material dan non-material), environment (lingkungan tempat kerja), validity (pedoman, petunjuk dan uraian kerja) dan evaluation (umpan balik hasil kerja). Dari beberapa faktor di atas, yang dapat diintervensi dengan pendidikan dan pelatihan adalah capasity atau kemampuan pekerja yang dapat dikembangkan, sedangkan faktor lainnya diluar jangkauan pendidikan dan pelatihan.

BEBERAPA METODA PELATIHAN :

a. Metoda di luar pekerjaan (off the job side)

Pada metoda ini pegawai yang mengikuti pendidikan atau pelatihan keluar sementara dari pekerjaannya, mengikuti pendidikan dan pelatihan secara intensif. Metoda ini terdiri dari 2 teknik, yaitu :

1) Teknis presentasi informasi, yaitu menyampaikan informasi yang tujuannya mengintroduksikan pengetahuan, sikap dan keterampilan baru kepada peserta. Antara lain melalui; ceramah biasa, teknik diskusi, teknik pemodelan perilaku (behavioral modelling), model kelompok T, yaitu mengirim pekerja ke organisasi yang lebih maju untuk mempelajari teori dan mempraktekkannya.

2) Teknik simulasi. Simulasi adalah meniru perilaku tertentu sedemikian rupa sehingga peserta pendidikan dan latihan dapat merealisasikan seperti keadaan sebenarnya. Teknik ini seperti; simulator alat-alat kesehatan, studi kasus (case study), permainan peran (role playing), dan teknik dalam keranjang (in basket), yaitu dengan cara memberikan bermacam-macam masalah dan peserta diminta untuk memecahkan masalah tersebut sesuai dengan teori dan pengalamannya.

b. Metoda di dalam pekerjaan (on the job side)

Pelatihan ini berbentuk penugasan pekerja baru, yang dibimbing oleh pegawai yang berpengalaman atau senior. Pekerja yang senior yang bertugas membimbing pekerja baru diharapkan memperlihatkan contoh-contoh pekerjaan yang baik, dan memperlihatkan penanganan suatu pekerjaan yang jelas.


Read More......